Jakarta, mediaperkebunan.id – Kolaborasi apik sedang dijajaki oleh 4 pihak untuk mengubah tandan kosong (tankos) kelapa sawit yang diekstraksi sebagai sumber bahan baku untuk pembuatan bioethanol melalui proses ekstraksi glukosa.
Adapun 4 pihak yang berkolaborasi itu adalah adalah Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dengan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Di samping itu dilibatkan juga PT Rekayasa Industri dan satu pihak dari kalangan kampus, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), yang merupakan mitra strategis BBSPJIA dalam pengembangan teknologi energi terbarukan.
“Kolaborasi erat antara pemerintah, lembaga riset, dan industri seperti yang terjalin antara BBSPJIA dan Toyota merupakan fondasi bagi inovasi hijau di Indonesia,” tutur Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin, Andi Rizaldi.
“Kami sangat berkomitmen untuk mendukung pengembangan standardisasi serta layanan jasa industri yang dapat memacu transformasi sektor industri menjadi lebih berdaya saing sekaligus berwawasan lingkungan,” tutur Andi Rizaldi lagi.
Andi Rizaldi selaku Kepala BSKJI menjelaskan, BBSPJIA memiliki peran sentral sebagai lembaga teknis yang selama ini fokus mengembangkan berbagai teknologi pemanfaatan limbah agroindustri secara optimal.
Melalui fasilitas pilot plant fraksionasi tankos sawit yang dimiliki, Andi Rizaldi seperti dikutip Mediaperkebunan.id, Rabu (18/9/2025), menilai BBSPJIA mampu mengubah limbah tankos sawit menjadi produk bernilai tambah seperti bioethanol, glukosa, xylosa, lignin, dan turunan lainnya.
Kepala BBSPJIA, Yuni Herlina Harahap, memaparkan, pilot plant fraksionasi tankos sawit sebagai wadah riset dan pengembangan yang mendukung industri dalam upaya menghasilkan energi terbarukan dari limbah sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Proyek percontohan ini merupakan kolaborasi teknis yang diharapkan dapat mendorong pengembangan teknologi bioenergi berkelanjutan berbasis sawit,” ucap Yuni Herlina Harahap.
Sekaligus, tuturnya lebih lanjut, bisa membuka jalan bagi kerja sama riset lebih lanjut yang fokus pada pengembangan biomassa sebagai sumber energi ramah lingkungan.
Dia menjelaskan, dalam kerjasama tersebut semua pihak sepakat untuk terus menjalin komunikasi dan menjajaki peluang kolaborasi yang tidak hanya berkontribusi pada kemajuan teknologi nasional, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam pasar energi bersih global.
“Kami yakini, Indonesia bisa melangkah ke arah industri hijau yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Inisiatif ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dan kolaborasi lintas sektor mampu membawa perubahan positif,” ujar Yuni Herlina Harahap.
“Terutama dalam upaya menghadapi tantangan energi dan lingkungan secara simultan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berwawasan lingkungan,” imbuh Yuni kembali.
Wakil Presiden Direktur PT TMMIN, Bob Azam, menyatakan pihaknya tidak hanya melihat bioethanol yang dihasilkan dari limbah sawit sebagai alternatif energi, tetapi juga sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Mereka sangat meyakini kalau hal ini mampu mengurangi dampak lingkungan dan meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit yang sangat dominan di Indonesia.
“Kami sangat mengapresiasi peran dari BBSPJIA sebagai lembaga riset yang mampu menghadirkan solusi teknologi dan inovasi yang nyata untuk menghadapi tantangan energi masa depan,” ujar Bon Azam.
PT TMMIN, beber Bob Azam, juga menegaskan komitmen sebagai sebuah perusahaan yang aktif mendukung segala inisiatif dalam upaya mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi hijau.

