Klaten, mediaperkebunan.id – Bayer Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui Bayer JUARA (Juwiring Agriculture Research & Academy). Inisiatif ini menjadi wadah bagi Bayer untuk berbagi pengetahuan, memperkenalkan teknologi terbaru, serta mendampingi petani agar dapat menerapkan praktik pertanian yang lebih presisi, efisien, dan berkelanjutan.
Bayer JUARA bukan sekadar fasilitas akademi dan riset, tetapi juga ruang kolaborasi antara petani, peneliti, dan generasi muda pertanian. Di atas lahan kolaborasi seluas 9 hektar, Bayer dan petani menanam berbagai komoditas seperti jagung, semangka, padi, cabai, hingga bawang merah. Melalui kegiatan berbasis riset dan pelatihan lapangan, petani mendapatkan pendampingan untuk memahami praktik budidaya yang lebih efektif dan efisien sesuai kebutuhan di lapangan.
Menurut Kukuh Ambar Waluyo, Head of Field Solutions Bayer South East Asia & Pakistan, pendampingan dan kebahagiaan petani merupakan kunci ketahanan pangan yang berkelanjutan. Jika petani menanam dengan sukacita, maka ketahanan pangan akan tercapai. Oleh karena itu Bayer JUARA berperan bukan hanya sebagai penyedia teknologi, tetapi juga pendamping dan teman diskusi bagi para petani.
“Permasalahan petani sangat beragam. Melalui Bayer JUARA, kami ingin menjadi tempat petani berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama. Ketika petani merasa didampingi dan didengar, semangat mereka untuk menanam pun meningkat,” kata Kukuh.
Di Bayer JUARA, petani dapat mengikuti program Klinik Tani yang menjadi ruang bagi petani menyampaikan keluhan, berdiskusi, dan belajar langsung dari tim Bayer. Melalui klinik ini, petani dapat meningkatkan pemahaman mengenai pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara tepat.
Sebelum melakukan pengendalian, petani terlebih dahulu diajarkan mengenali jenis hama dan penyakit yang menyerang, seperti ulat dan kutu-kutuan. Dengan demikian, tindakan pengendalian dapat dilakukan secara presisi dan sesuai target bukan sekadar percobaan.

Petani juga dikenalkan dengan berbagai teknologi pertanian presisi, mulai dari penggunaan drone untuk aplikasi pestisida secara tepat sasaran hingga alat pendeteksi gulma dan penyakit yang membantu menganalisis kondisi lahan. Teknologi ini memungkinkan petani mengetahui area yang paling subur maupun yang rawan serangan hama sehingga pengelolaan lahan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Inovasi lainnya adalah teknologi alat pemantau cuaca berpresisi tinggi yang mampu merekam data suhu, kelembapan, curah hujan, dan kecepatan angin. Data yang terkumpul selama beberapa bulan digunakan untuk memprediksi cuaca hingga tiga bulan ke depan yang tentunya membantu petani menentukan waktu tanam dan pola budidaya yang paling optimal. Saat ini, Bayer telah memasang tujuh unit Arable 3 di Indonesia termasuk dua di Bayer JUARA.
“Setiap hari Jumat, hasil pemantauan ini disampaikan kepada petani melalui sesi Klinik Tani. Ini menjadi referensi penting bagi mereka yang membutuhkan informasi curah hujan dan iklim lokal,” ujar Kukuh.
Awibowo, salah satu petani di Juwiring menuturkan manfaat besar dari kehadiran Bayer JUARA. Pendampingan rutin dan fasilitas seperti Klinik Tani membuat petani lebih memahami bagaimana caranya mengelola lahan yang baik dan berkelanjutan.
“Klinik Tani Bayer JUARA sangat membantu kami memahami kondisi lahan dan cara pengendalian hama yang lebih efektif. Tim Bayer juga selalu terbuka mendengar masalah kami,” tutur Awibowo.
Selain meningkatkan kapasitas pemahaman petani, Bayer JUARA juga mendorong keterlibatan generasi muda pertanian melalui teknologi digital dan pendekatan ilmiah. Dengan memperkenalkan alat pemantau cuaca, sensor lahan, hingga aplikasi digital, Bayer ingin menunjukkan bahwa pertanian masa kini bisa modern dan menarik.

