Jakarta, mediaperkebunan.id – Kebutuhan air industri kelapa sawit sangat besar, baik perkebunan, PKS dan domestik. Sumber air berasal dari danau, sungai, air hujan, air tanah, air recyle. Dalam prosesnya timbul air lmbah yang harus dikelola.
“Metode konvensional berbiaya tinggi berbentuk piramida dari pencegahan, minimisasi, reuse, recycling, pemulihan energi, pembuangan akhir sudah harus ditinggalkan. Sekarang menggunakan metode masa depan sebaliknya jadi piramida terbalik dengan biaya rendah,” kata Ahmad Habibi, Sekjen Indonesian Water Assication pada 1st International Environment Forum (IEF) yang diselenggarkan Media Perkebunan dengan dukungan BPDP.
Unit pengolah air limbah (IPAL) kadang-kadang menjadi kendala yang sulit dikendalikan. Ada berbagai faktor penentu keberhasilan unit ini agar tercipta keberlangsungan bisnis perusahaan jangka panjang dan lingkungan yang aman. Faktornya yaitu komitmen manajemen, design IPAL, kimia pendukung, parameter operasional, kemampuan personal, regulator dan kepedulian masyarakat.
Prinsip dasar IPAL : mapping, baku mutu effluent, basic engineering design, sistem IPAL. Proses mapping : identifikasi sumber air limbah, karakterisitiknya, kapasitas dan fluktuasinya, kemungkinan adanya material inhibitor; bahan kimia yang digunakan; kemampuan operator (sertifikat PPPA/POPA); identifikasi unit proses IPAL/STP; pemahaman diagram alir, PFD/P and D, layout iPAL; pemahaman prosedur operasional (SOP).
Manfaat mapping : memudahkan identifikasi air limbah yang dihasilkan, menentukan pengolahan air limbah sesuai karakteristiknya; mengantisipasi/mencegah materian toksik toksik ke sistim IPAL, operasional sistim IPAL, penanganan terhadap masalah proses, membantu menerapkan teknologi bersih.
Identifikasi debit air limbah : maksimum, rata-rata, minimum, volume rata-rata tangka. Pengaturan load BOD/COD, pengaturan dosing parameter inhibitor, mempertahankan proses.
Karakteristik air limbah industri dipengaruhi oleh penggunaan air, bahan baku dan bahan pendukng, penggunaan energi/teknologi; kebiasaan operator. Karakteristik air limbah domestik: penggunaan air, jenis kegiatan, jenis air limbah.
Karateristik POME:
Sumber limbah dari pemanasan dan sterilisasi, hydrocyclone, sludge separator. Kapasitas air limbah : 60% dari proses klarifikasi, 36% dari proses rebusan, 4% dari pencucian alat dan mesin, sekitar 0,5-1 m3/ton produksi. Karateristik COD 15.000-100.000 mg/l, BOD 10.250-43.750 mg/l, TSS 5.000-54.000 mg/l, minyak lemak 150-18.000 mg/l, TN 180-1.400 mg/l, pH 3,4-5,2.
Identifikasi parameter inhibitor: material disinfektan, penol, high amoniak, high oil dan grease, garam, sulfida. Dilokalisir dalam pre-treatment. Kemampuan operator pemahaman SOP, proses, troubleshooting dengan training. Kemampuan kepala IPAL sama dengan operator melalui sertifikasi POPA/PPPA.
Persyaratan teknis IPAL: saluran harus terpisah dari air hujan; bangunan IPAL harus kedap air; memasang alat ukur debit in let dan out let, tidak melakukan pengenceran; menentukan titik penataan; pemantauan minimal 1 bulan sekali, mencatat debit dan pH harian. BED merupakan basic dalam operasional IPAL, dimana kapasitas dan karateristik inffluent yang boleh masuk dan target effluent yang akan dicapai.

