Jakarta, mediaperkebunan.id – Komoditas teh di Indonesia saat ini kerap dianggap sebagai komoditas “sunset” akibat menurunnya produksi dan menyusutnya luas lahan perkebunan. Namun di balik persepsi tersebut, konsumsi teh justru terus mengalami pertumbuhan. Ketua Dewan Teh Indonesia, Iriana Ekasari menegaskan bahwa kondisi ini membuka peluang besar bagi kebangkitan industri teh nasional, khususnya melalui hilirisasi berbasis perkebunan rakyat.
“Secara global, teh adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi setelah air putih. Konsumsi gross teh tumbuh sekitar 5–6 persen per tahun, jadi sebenarnya masih tinggi,” ujar Iriana dalam wawancara bersama Media Perkebunan pada hari Kamis (29/1/2026).
Iriana menjelaskan, narasi penurunan teh selama ini lebih banyak dilihat dari sisi hulu. Alih fungsi lahan, penurunan produksi, hingga merosotnya ekspor membuat teh seolah kehilangan daya saing. Padahal, dari sisi konsumsi, tren justru bergerak sebaliknya. “Produksi turun, konsumsi naik. Artinya ada gap yang belum dimaksimalkan oleh industri dalam negeri,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 yang dirilis pada 2025, struktur industri teh nasional Indonesia juga telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya perkebunan negara (PBN) dan perkebunan swasta (PBS) menjadi pemain dominan, kini posisi tersebut bergeser.
“Landscape industri teh sekarang single dominan adalah perkebunan rakyat, baik dari sisi luas maupun produksi. Ini menjadi peluang besar untuk mendorong hilirisasi teh rakyat,” tegas Iriana.
Perubahan struktur tersebut mendorong Dewan Teh Indonesia untuk menyusun kepengurusan dengan pendekatan rantai nilai (value chain). Hulu tidak lagi diperlakukan sebagai entitas terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling terhubung.
“Di hulu kami rangkul PBN, PBS, dan perkebunan rakyat, ini pertama kalinya perkebunan rakyat masuk sebagai bagian utama. Lalu ada trading, logistik, hingga hilir seperti industri pengemasan, distributor, event organizer, dan media,” jelasnya.
Menurut Iriana, peningkatan produksi di hulu harus dibarengi kesiapan sektor tengah dan hilir. Tanpa dukungan trader, logistik, dan industri pengolahan, peningkatan hasil petani justru berpotensi menjadi masalah baru. “Tidak bisa hanya fokus ke pupuk dan kebun. Kalau hasil naik tapi truk, modal trader, dan kapasitas angkut tidak siap, ya tetap tidak jalan,” ujarnya.
Perubahan Pola Konsumsi Teh Indonesia
Menjawab fenomena pesatnya pertumbuhan kopi, Iriana menilai hal tersebut lebih dipengaruhi perubahan demografi dan gaya hidup. Dominasi generasi milenial dan Gen Z menggeser pola konsumsi dari in-home consumption ke outdoor consumption.
“Kopi tumbuh karena momentumnya pas dengan naiknya populasi milenial dan Gen Z. Tapi riset kami menunjukkan, di kafe 45 persen konsumen memilih kopi dan 38 persen memilih teh,” ungkapnya.
Menariknya, secara volume konsumsi, teh justru lebih unggul. “Kopi sekali seduh sekitar 14 gram, sementara teh dua kali minum hanya 4 gram. Jadi secara kuantitas, konsumsi teh sebenarnya lebih besar, hanya occassion-nya yang berbeda,” tambahnya.
Saat ini, pasar domestik banyak diisi oleh produk impor, terutama teh bubuk dari Thailand yang populer melalui tren Thai Tea. Selain itu, impor juga terjadi dalam bentuk ekstrak teh ready to drink. “Thai tea itu yang disukai bukan karena tehnya, tapi gula, susu, dan warnanya yang bahkan pakai pewarna. Padahal secara rasa, teh dari Jawa Tengah sangat bisa bersaing,” tegas Iriana.
Nilai Tambah Hilirisasi Teh Rakyat
Iriana mencontohkan besarnya potensi nilai tambah dari hilirisasi. Harga pucuk basah teh di tingkat petani saat ini sekitar Rp2.500 per kg. Dengan rendemen 20 persen, harga teh kering hanya sekitar Rp12.500 per kg. Namun setelah dihilirisasi, harga teh bisa mencapai Rp250.000 per kg.
“Itu kenaikan nilai sampai 20 kali lipat. Nilai tambahnya keluar dari petani, dan ini peluang besar yang harus dimanfaatkan,” jelasnya.
Selain itu, Iriana menyoroti masih banyaknya pohon teh istimewa di tingkat petani yang belum tergarap optimal.
“Yang kurang adalah pemetaan klon-klon teh rakyat. Setiap daerah punya karakter aroma dan rasa yang berbeda. Kalau diolah dengan cara yang tepat, kita bisa menghasilkan teh-teh premium yang sangat istimewa,” tutupnya.

