1 March, 2020

Target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) tahun 2025 adalah 23% dan tahun 2050 31%. “Realisasi tahun 2019, bauran EBT baru 9,18% sehingga dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak khususnya untuk pengembangan program bioenergi berbasis sawit yang bahan bakunya tersedia dalam jumlah memadai,” kata Hariyanto, Direktur Konservasi Energi, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kemen EDSM pada Chemical Engineering Special Event, LPP Yogyakarta.

Dewan Energi Nasional mentargetkan PLT bionergi 5.500 MW, tahun 2019 baru 1885 MW sehingga gapnya masih 3.615 MW. Produksi biofuel ditargetkan 13,8 juta KL sedang produksi masih 8,37 juta KL, gap masih 5,43 juta KL. Produksi biogas ditargetkan 463,5 juta m3 /tahun saat ini masih 26,28 juta m3gap masih 463,5 juta m/tahun.

Salah satu strategi pengembagan bioenergi berbasis sawit adalah pemanfaatan pellet biomassa berbasis sawit. Pemerintah akan mengembangkan co firing pellet biomassa dengan batubara pada PLTU eksisting. Pellet biomassa ini antara lain memanfaatkan limbah padat PKS dan limbah dari replanting.Tahun 2025 ditargetkan 1-3% pemanfaatan pellet biomassa pada PLTU eksisting.

Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan yang tertuang dalam Inpres nomor 6 tahun 2019 menginstruksikan Kementerian ESDM untuk meningkatkan pemanfaatan produk sawit sebagai energi terbarukan khususnya pengembangan pembangkit listrik berbahan baku limbah cair kelapa sawit (POME).

Berdasarkan Permen ESDM nomor 12 tahun 2015, tahun 2020 mulai diimplementasikan B30 untuk seluruh sektor. Kementerian ESDM, PT PLN dan pihak terkait lainnya akan mengkaji pemakaian biodiesel diatas 30% untuk PLT. Pemerintah akan mengembangkan green fuel berbasis CPO mulai tahun 2020 melalui kilang milik PT Pertamina baik secara co processing maupun stand alone refining unit.

(Visited 62 times, 1 visits today)