Jakarta, Mediaperkebunan.id – Peran dan keberadaan Pusat Penelitian Karet (Puslit) Karet, termasuk yang ada di Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Sei Putih, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) perlu diperkuat. Di samping itu, hal yang sama juga perlu dilakukan terhadap proses revitalisasi dan hilirisasi industri karet karena hal tersebut juga mampu memperkuat potensi perkebunan karet milik rakyat.
Hal ini, seperti dikutip Media Perkebunan.id dari laman resmi Kementerian Pertanian, Minggu (29/12/2024), terungkap dalam pertemuan antara Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono, dengan Ketua Umum Dewan Karet Indonesia, Aziz Pane,, baru-baru ini di kantor Kementerian Pertanian (Kementan). Wamentan yang saat itu didampingi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Perkebunan (Dirjenbun), Heru Tri Widarto, mengatakan pertemuan digelar untuk membahas berbagai isu terkait perkembangan industri karet nasional
.”Terutama mengenai peran Puslit Karet dan perlunya hilirisasi karet untuk peningkatan konsumsi dalam negeri yang tentunya berdampak positif kepada harga karet rakyat,” kata Wamentan.
Azis Pane sendiri menyampaikan peran pemerintah sangat penting dalam mendorong hilirisasi karet di Indonesia sebagai negara produsen karet terbesar dunia setelah Thailand. Kata dia, produk turunan karet belum banyak dikembangkan seperti seal mesin, sandal, paving block yang sangat bermanfaat bagi industri properti, dan produk jadi lainnya yang merupakan hasil dari turunan karet.
Untuk mendukung hilirisasi karet ini, kata dia, pemerintah melalui Kementan agar memperkuat peran Puslit Karet sebagai institusi penelitian yang diakui dalam memberikan rekomendasi hasil penelitian yang dapat mendukung kebijakan pemerintah dalam pengembangan industri karet
.“Puslit Karet harus menjadi garda terdepan dalam menghasilkan inovasi dan solusi yang bisa langsung diterapkan di lapangan untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas karet yang dihasilkan oleh petani, dan hilirisasi produk karet,” ujar Aziz.
Untuk mendukung hal tersebut maka perlu didirikan pusat pelatihan karet sebagai lembaga pendidikan meningkatkan kapasitas SDM dalam perkaretan.Azis Pane juga menekankan pentingnya hilirisasi karet dalam meningkatkan harga karet di tingkat rakyat sebagai pekebun.
Kata dia, pemanfaatan resi gudang untuk memotong mata rantai pemasaran karet perlu ditingkatkan. Hilirisasi diharapkan bisa membuka lebih banyak peluang pasar dan meningkatkan nilai tambah produk karet, sehingga memberi keuntungan lebih bagi para petani. Menanggapi hal tersebut, Sudaryono menyambut baik ide yang disampaikan oleh Dekarindo dan mendukung penuh terhadap upaya penguatan Puslit dan hilirisasi karet.
“Kami siap mendukung penuh inisiatif ini, jika diperlukan kami juga akan memfasilitasi audiensi lebih lanjut dengan kementerian terkait untuk memastikan langkah-langkah yang diambil sejalan dengan kebijakan nasional,” ujar Sudaryono.
Pihak Kementerian Pertanian, melalui Plt Dirjen Perkebunan, juga menyatakan komitmennya untuk mendukung program-program yang dapat meningkatkan daya saing industri karet Indonesia dan kesejahteraan petani karet di seluruh Indonesia. Pihaknya juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga penelitian untuk mewujudkan tujuan tersebut. Keberadaan UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar) agar diperkuat sehingga mutu Bokar yang dihasilkan sesuai dengan yang dibutuhkan pabrik.
“Dengan adanya audiensi ini, diharapkan berbagai pihak dapat bekerja sama lebih erat untuk mendorong kemajuan industri karet nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani karet Indonesia,” tegas Plt Dirjenbun Heru Tri Widarto.

