JAKARTA, mediaperkebunan.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memberi pelatihan untuk pengolah gula kelapa di Nusa Tenggara Barat (NTB), baik yang sedang merintis maupun yang telah menjalankan usahanya agar dapat naik kelas. Secara progresif program ini untuk meningkatkan jumlah populasi wirausaha baru Industri Kecil, dan Menengah (IKM).
Salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan adalah Pendampingan Teknis WUB IKM Olahan Kelapa di Lombok Timur serta Kegiatan Pendampingan Teknis Produksi dan Pewarnaan Alam WUB IKM Tenun di Lombok Tengah. Kegiatan yang diikuti oleh masing-masing 15 IKM untuk tiap komoditas tersebut juga merupakan hasil kolaborasi antara Ditjen IKMA Kemenperin bersama Ikatan PIMTI Perempuan Indonesia dan Pemerintah Daerah Provinsi NTB, serta Pemerintah Kabupaten di Provinsi NTB melalui Dinas yang membidangi industri.
“NTB memiliki potensi komoditas kelapa karena merupakan salah satu provinsi penghasil kelapa,” ujar Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita di Jakarta, Selasa (2/7/2024).
Reni mengungkapkan, area produksi kelapa paling potensial di wilayah NTB terletak di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Timur. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Provinsi NTB, luasan panen kelapa di wilayah Kabupaten Lombok Timur mencapai 9.060 hektare.
“Jumlah produksi yang tinggi ini menjadikan kelapa sebagai komoditas yang memiliki potensi ekspor dan dapat mendatangkan devisa sehingga layak dijadikan salah satu sumber perekonomian nasional,” ungkap Reni.
Kelapa dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang memiliki nilai jual tinggi. Agar dapat meningkatkan nilai tambahnya, perlu dilakukan pengembangan produk kelapa yang bernilai ekonomi.
Salah satunya minyak goreng kelapa dan VCO, melalui pemberdayaan kelompok IKM di Kabupaten Lombok Timur. Minyak goreng kelapa juga menjadi alternatif di tengah tingginya harga minyak sawit, selain itu memiliki kekhasan aroma dan rasa yang lebih harum dan lebih bening.
Selain mendapatkan pendampingan, para peserta yang mayoritas merupakan perempuan juga mendapatkan fasilitasi mesin peralatan produksi olahan kelapa dan tenun. Adapun fasilitasi mesin peralatan diberikan kepada satu kelompok dari Kabupaten Lombok Tengah, terdiri satu set alat tenun gedogan dan tiga kelompok dari Kabupaten Lombok Timur, terdiri dari satu set mesin peralatan pembuat minyak goreng kelapa.
Dirjen IKMA menyampaikan bahwa pemerintah, baik pusat maupun daerah, terus berupaya untuk menjaga dan meningkatkan keberlangsungan usaha pelaku IKM. Keberadaan IKM memiliki peranan yang penting dalam memperkuat perekonomian nasional, terutama dalam perluasan kesempatan berusaha dan bekerja hingga ke pelosok daerah.
“Oleh karena itu, kami terus menggelar berbagai program pelatihan untuk terus meningkatkan jumlah populasi WUB IKM, baik yang baru merintis bisnis maupun yang telah menjalankan usahanya agar dapat naik kelas,” ujar Reni.
Kolaborasi Kemenperin bersama Ikatan PIMTI Perempuan Indonesia merupakan bentuk komitmen dalam memperjuangkan pemberdayaan perempuan melalui kolaborasi dengan para pelaku pembangunan untuk mengakselerasi perwujudan perempuan berdaya guna mendukung tujuan pembangunan nasional. (YR)

