Yogyakarta, mediaperkebunan.id – PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) menggelar Lokakarya Kelapa Nasional bertajuk “Kembalikan Kejayaan Industri Kelapa Indonesia” di Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menghadapi tantangan dan menggali potensi besar kelapa sebagai komoditas unggulan nasional.
Direktur PT RPN, Dr. Iman Yani Harahap, menegaskan pentingnya penguatan industri kelapa secara menyeluruh dan berkelanjutan. Ia menyoroti berbagai persoalan krusial seperti rantai pasok yang belum optimal, harga yang rendah, hingga masih minimnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP) di tingkat petani. Dampak perubahan iklim juga memperparah kondisi, dengan penurunan areal kebun kelapa sebesar 0,33% dan penurunan produksi sebesar 0,18% per tahun.
“Kolaborasi adalah kunci keberhasilan. PT RPN terbuka untuk bersinergi dengan semua pemangku kepentingan melalui semangat triple helix—pemerintah, akademisi, dan industri,” tegasnya.
Penandatanganan MoU: Komitmen Kolaborasi Nyata
Dalam rangka memperkuat sinergi, PT RPN menandatangani nota kesepahaman (MoU) dan Surat Perjanjian Kerja sama (SPK) dengan sejumlah mitra strategis:
- Dewan Kelapa Indonesia (Dekindo) – Program pelatihan di bidang hulu dan hilir kelapa
- PT Perkebunan Dewa Agri – Penelitian dan pelatihan komoditas kelapa
- Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Cooperation (NAM CSSTC) – Program pendidikan dan pelatihan kelapa untuk negara-negara Selatan-Selatan
- Asosiasi Petani Kelapa Indonesia (APKI) – Pengembangan penangkaran bibit kelapa rakyat
Kebijakan Pemerintah: Dorongan untuk Percepatan
Dalam sesi keynote, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Ir. Baginda Siagian, M.Si, menyampaikan bahwa stagnasi produksi kelapa, yang saat ini hanya 1,1 ton kopra/ha/tahun, harus segera diatasi. Pemerintah tengah mengakselerasi program melalui penyediaan benih unggul, pengembangan kawasan kelapa, pemberdayaan petani, dan kolaborasi lintas sektor.
“Target kami adalah menyediakan benih dan sarana produksi untuk 1.900–2.000 hektare pada 2025 dan 134.000 hektare pada 2026. PT RPN akan menjadi komando dalam program ini,” ungkapnya.
Diskusi Pleno: Menyatukan Suara Hulu dan Hilir
Sesi diskusi yang dipandu oleh Prof. (RIS) Ir. Didiek Hadjar Goenadi, MSc, Ph.D, INV, menghadirkan pandangan dari berbagai pemangku kepentingan. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir, Mohammad Alfansyah, SH, MH menyatakan kesiapan mendukung kelapa dalam skema pendanaan dan hilirisasi. Direktur Perbenihan Perkebunan, Ebi Rulianti, S.P., M.Sc, menekankan pentingnya pelepasan varietas unggul. Dekindo menyoroti perlunya industri kelapa yang terintegrasi, data terpadu, dan pengolahan berteknologi. PT Perkebunan Nusantara 1 menetapkan strategi jangka panjang dalam pengembangan komoditas kelapa sebagai bagian dari program transformasi dan optimalisasi aset perkebunan.
PT Sambu Group dan PT Perkebunan Dewa Agri membagikan praktik terbaik pengolahan dan pemasaran produk turunan kelapa. Diskusi juga diwarnai masukan kritis terkait kebutuhan replanting kebun, keterlibatan swasta, digitalisasi, diversifikasi produk, dan pentingnya harga yang adil untuk petani.
Penutup: Arah Strategis ke Depan
Lokakarya ditutup dengan penyerahan plakat apresiasi kepada moderator, narasumber, dan sponsor oleh jajaran direksi PT RPN. Kepala Kelti Komoditas Kelapa PT RPN, Dr. Imron Riyadi, membacakan rumusan hasil lokakarya yang akan menjadi dasar langkah strategis lanjutan.
Lokakarya ini menjadi tonggak penting dalam upaya membangkitkan kejayaan industri kelapa Indonesia melalui riset, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor.

