Jakarta, mediaperkebunan.id – Menurut Badan Karantina Indonesia, ekspor kelapa bulat ke luar negeri pada Januari – Februari 2025 mencapai 181.500 ton dan meningkat 29,84% secara bulanan. Laku keras di pasar ekspor, kelapa Indonesia saat ini tengah mengalami tantangan produktivitas yang rendah.
Pada 2024, luas perkebunan kelapa di Indonesia sendiri adalah 3,3 juta ha, umumnya milik smallholders dengan luas lahan 0,5-2,0 ha. Selain banyak pohon kelapa yang sudah tua yang kurang produktif (umur di atas 60 tahun) bahkan mati dan banyak menggunakan bukan benih unggul, banyak tanaman kelapa yang tidak dipupuk dan dipelihara dengan baik, sehingga pohon kelapa terserang hama dan penyakit.
Diketahui, El Nino pada tahun 2023 juga telah menurunkan produksi kelapa 50-60%. Modal dan benih yang terbatas serta aturan/regulasi sistem penyebaran benih kelapa dinilai membuat peremajaan kelapa berjalan lambat.
Prof. Dr. Ir. Hengky Noviarianto, MS seorang Pensiun Peneliti Utama di Divisi Tanaman Palma-Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam webinar bertajuk “Pengembangan Kebun Sumber Benih Kelapa” pada hari Selasa (19/08) menjelaskan secara rinci tentang beberapa tantangan yang tengah dihadapi industri kelapa saat ini yang mengakibatkan produksi dan produktivitas tanaman kelapa rendah.
“Beberapa masalah tentang sistem distribusi bibit antara lain mengenai sumber benih yang tersebar, pembatasan regulasi, biaya transportasi tinggi, ketersediaan terbatas dari pohon induk terpilih (PIT), dan keterlambatan implementasi kebijakan kebun benih,” jelas Prof. Hengky.
Sumber benih yang tersebar di banyak provinsi dan pulau dinilai menyulitkan logistik. Lalu, varietas unggul bersertifikat diperlukan untuk distribusi nasional, varietas lokal dapat beredar di provinsi asalnya.
Kemudian, memindahkan bibit dan buah ke berbagai pulau membutuhkan biaya mahal karena volume yang besar dan tantangan logistik. Menurut Prof. Hengky, peraturan yang mewajibkan kebun benih untuk setiap varietas yang dirilis juga belum sepenuhnya ditegakkan.
Indonesia sendiri memiliki beberapa varietas superior dari hasil pemuliaan 1983 – 2025, di antaranya sebagai berikut tall coconut dengan 34 varietas, dwarf coconut dengan 14 varietas, dan hybrid coconut dengan 10 varietas. Kemudian, menurut data yang dijabarkan Prof. Hengky, ada 40 varietas kelapa yang telah dirilis sejak tahun 1983 sampai Maret 2025.
“Potensi produksi benih unggul dari varietas kelapa ada 3 juta butir, tetapi apakah sebanding dengan program Peremajaan Kelapa Rakyat (PKR) Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun)?” ujar Prof. Hengky.
Disebutkan bahwa program PKR Ditjenbun sendiri dicanangkan akan menanam 500.000 ha tanaman kelapa selama tiga tahun. “Asumsi 1 ha ditanam 100 pohon, maka dibutuhkan 50 juta bibit dalam jangka waktu 3 tahun, atau 16.666.666 bibit kelapa. Dari kebun sumber benih kelapa mana bibit sebanyak ini dapat disuplai?” tanyanya.
Menurutnya, program penanaman kelapa rakyat Ditjenbun tidak sesuai dengan potensi produksi benih saat ini. Melihat kondisi yang ada, Prof. Hengky menjabarkan tantangan keterbatasan bibit kelapa sebagai berikut:
- Jumlah varietas cukup banyak, tetapi kapasitas penyediaan benih masih terbatas,
- Lokasi sumber benih tersebar di beberapa Provinsi, Kabupaten dan Pulau,
- Perbanyakan masih secara konvensional, yaitu melalui biji,
- Biaya transport benih dari beberapa lokasi berbeda pulau masih mahal dan daya angkut terbatas dengan volume benih yang cukup besar,
- Belum ada kebun induk hasil pemurnian varietas unggul.
Kemudian, strategi pengembangan kebun sumber benih kelapa diusulkan sebagai berikut:
- Menambah PIT dari varietas unggul,
- Memanfaatkan sumber benih dari unggul lokal (kebijakan bisa nasional),
- Menambah BPT dan PIT dari populasi kelapa Dalam unggul lokal baru,
- Membangun kebun induk dari varietas kelapa Dalam unggul,
- Membangun kebun induk dari varietas kelapa Genjah unggul, dan
- Membangun kebun induk induk varietas kelapa Hibrida.
Menurut Prof. Hengky, dana PKR dapat dimanfaatkan untuk menambah PIT dari varietas, memanfaatkan PIT unggul lokal yang sebelumnya telah disertifikasi, dan menambah BPT serta PIT dari unggul lokal baru.
Kemudian, pengembangan kebun sumber benih kelapa Dalam dilakukan di beberapa Kabupaten yang memiliki kebun benih varietas kelapa Dalam unggul. Benih untuk kebun sumber benih harus diseleksi dari PIT terbaik dan pengembangan kebun sumber benih 5-10 ha.
Untuk luas kebun 5-10 ha, dibutuhkan benih kelapa Dalam sebanyak 1.100 – 2.200 butir. Jika telah berproduksi optimal sesudah 12 tahun, maka dapat menghasilkan produksi 50.000 – 100.000 butir per tahun. Jumlah buah dapat diseleksi benih sekitar 40.000 – 80.000 butir. “Jumlah benih ini dapat dipakai untuk menanam lahan baru seluas 100-200 ha,” jelasnya.
“Pengembangan kebun sumber benih kelapa akan berdampak pada peningkatan ketersediaan benih kelapa unggul, peningkatan penanaman dan peremajaan kelapa, dan akhirnya peningkatan produksi kelapa sebagai bahan baku keberlanjutan Industri Kelapa Terpadu,” pungkas Prof. Hengky.
Prof. Hengky juga berharap, kelapa Indonesia tidak hanya bergantung dari ekspor. Namun, juga peningkatan nilai jual kelapa dan ini memerlukan bantuan dari Ditjenbun.

