Sumedang, mediaperkebunan.id– Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) menanami bantaran sungai yang telah dikosongkan oleh bangunan liar dengan kelapa dan sukun. Saat ini sepanjang bantaran sungai dari Subang sampai Bandung sudah banyak kelapa dan sukun yang ditanam. Hal ini disampaikan Kang Dedi Mulyadi (KDM), panggilan akrabnya ketika menyampaikan sambutan pada Seminar Nasional Hilirisasi Berbasis Agroforestry Sukun yang diselenggarakan Yayasan Sukun Indonesia, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran di Kampus Unpad Jatinangor.
“Sekarang semua orang bicara kelapa karena harga kelapa mahal tetapi tidak ada yang menanam. Saya tanam kelapa dan sukun tanpa menunggu anggaran. Kalau menunggu anggaran baru Juli mulai tanam. Falsafah Sunda menyatakan kelapa muda jangan diambil karena akan menganggu produksi selanjutnya sekarang kita mengambil kelapa muda sedang kelapa tua diekspor,” katanya.

KDM secara radikal mengubah pembangunan Jawa Barat sesuai falsafah Sunda untuk menjaga lingkungan yaitu leuweung kudu diawian artinya hutan harus ditanami bambu/pohon. Konsep Perhutanan Sosial versi Kemenhut sekarang menurut KDM salah kaprah, harusnya rakyat diberi akses pada lahan hutan untuk kehidupannya. Pemda Jabar siap bekerjasama dengan Kemenhut dan UNPAD mengubah Perhutanan Sosial dengan menanam lahan Kehutanan/Perum Perhutani dengan berbagai tanaman diantaranya kelapa dan sukun.
Untuk menjaga hutan Pemprov Jabar juga menyediakan anggaran membeli kayu Perum Perhutani Rp100 miliar supaya tidak ditebang, tetap bertahan sebagai hutan sehingga nanti ada pohon yang berumur 30, 40 tahun. Pola kerja Perum Perhutani dengan masyarakat dalam Perhutanan Sosial selama ini adalah menanam pohon berkayu kemudian ditebang, kayunya dijual Rp1 juta. Padahal pohon kayu ini ditanam di daerah tangkapan air waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur sehingga menyebabkan sedimentasi.
Kebun karet di Jawa Barat juga akan tetap dipertahankan, tidak peduli harga karet rendah, sebab nilai ekologinya untuk mempertahankan tangkapan air dan anti erosi, juga penghasil oksigen jauh lebih besar daripada harga lateks. Lahan-lahan kosong di Jawa Barat juga akan ditanami karet.
PTPN I yang saat ini mengelola kebun di Jawa Barat banyak mengKSOkan lahannya untuk pelaku yang baru belajar membangun kawasan wisata. Akibatnya kebun teh, kebun karet dibongkar sesuai luas KSOnya ada yang 200 ha, 30 ha dan lain-lain mengakibatkan kerusakan lingkungan.
Pemda Jabar membuat MoU dengan PTPN 1 untuk mempertahankan kebun teh dan karet, bahkan memperluas. Rumah-rumah bedeng pemetik teh akan dirombak, menggunakan bambu seartistik mungkin sehingga menjadi penginapan. Anak-anak pemetik teh diajari hospitality seperti cara menata ruangan, melayani wisatawan, memasak dan menyajikan makanan. Dengan cara ini buruh pemetik teh mungkin mendapat Rp1 juta dari kebun, sedang anak-anaknya dapat Rp3 juta/bulan dari pariwisata. Di sela-sela kebun teh juga akan ditanami kopi yang menjadi hak buruh untuk penghidupan mereka.
Ada 3 tanaman yang selalu ditanam urang Sunda sejak dulu yaitu Putat, Sukun dan Kluwih. Saat ini yang bertahan hanya ada sukun. KDM menugaskan Unpad untuk membuat pembibitan Sukun, Putat, Kluwih sehingga urang Sunda kembali ke konservasi jaman dulu.

