Jakarta, mediaperkebunan.id – Hasil penelitian Wagenigen University Januari 2025 menyebutkan perubahan iklim membuat produksi kakao Afrika dibawah tekanan. Terjadi pergeseran kelayakan lahan perkebunan kakao akibat dampak peningkatan CO2 tertahan membuat kekeringan dan pemanasan global semakin meningkat. Kondisi ini membuat stress abiotik meningkat. Pantai Gading dan Ghana kehilangan 50% layak tanam sehingga produktivitas semakin menurun.
Dini Astika Sari, Kepala Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menyatakan hal ini dalam webinar Akselerasi Hilirisasi Kakao untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang diselenggarakan Media Perkebunan.
Indonesia saat ini menempati urutan ke 7 produsen kakao dunia dengan produksi 200.000 ton, nomor 1 Pantai Gading 1,7 juta ton, nomor 2 Ghana 480.000 ton, nomor 3 Ekuador 420.000 ton, nomor 4 Kamerun 300.000 ton, nomor 5 Nigeria 300.000 ton, nomor 6 Brasil 200.000 ton.
Produsen utama Pantai Gading yaitu 45% dari total produksi, kemudian Ghana 16%, Ekuador 6,26%, Nigeria 6,26% dan Indonesia 5,22%. Konsumen utama Belanda 27% dari total konsumsi dunia, Amerika Serikat 13%, Jerman 13%, Belgia 9%. Data 10 tahun dari tahun 2013/2014 sampai 2023/2024 produksi tumbuh -7% sedang grinding tumbuh 8%.
Di Indonesia Kawasan pengembangan kakao perlu ditinjau ulang untuk menentukan kelas kesesuaian lahan baru yaitu S1 sangat layak, S2 moderat layak, S3 marjinal tetapi masih bisa digunakan, N1 saat ini tidak layak, N2 tidak layak permanen. Jenis faktor penghambat kelas lahan sangat diperlukan untuk menentukan program dan arah kebijakan terkait penggunaan bahan tanam, penaung dan faktor input.
Semakin rendah kelas kesesuaian lahan maka faktor input yang diberikan akan semakin tinggi secara ekonomis. Penelitian Puslitkoka tahun 2009, laporan analisis tanah dan iklim pada beberapa Kawasan sentra produksi kakao Indonesia adalah Maluku S2 -S3, Sulsel S2, Sulbar S2, Sulut S2-S3, Sulteng S2-S3, Bali S2, NTT S3, Papua S2-S3.
Indonesia adalah pemain kunci pada industry grinding Asia Oceania, yang pada tahun 2021/2022 kawasan ini mengolah 1.145.000 ton kakao dan Indonesia 460.000 ton, tahun 2022/2023 kawasan mengolah 1.157.000 ton Indonesia 465.000 ton. Indonesia berada di urutan keempat setelah Pantai Gading 715.000 ton, Belanda 620.000 ton, Jerman 470.000 ton. Setelah Indonesia adalah Ghana dan Malaysia masing-masing 380.000 ton, Ghana 300.000 ton, Brasil 225.000 ton.
Sepuluh sentra produksi kakao tahun 2023 adalah Sulteng 267.251 ha produksi 125.919 ton; Sultra 217.902 ha produksi 101.736 ton; Sulsel 176.224 ha, 79.776 ton; Sulbar 141.517 ha, 67.150 ton; Aceh 93.430 ha, 36.596 ton; Lampung 76.544 ha 45.639 ton; Sumbar 63.421 ha 36.184 ton; NTT 61.065 ha 20.897 ton; Sumut 53.409 ha 37.969 ton; Jatim 39.139 ha 20.007 ton.
Luas lahan kakao rakyat tahun 2023 1.388.396 ha, produksi 631.386 ton, produktivitas 713 kg/ha. Kondisi tanaman TM 890.339 ha (63,9%), TBM 212.276 ha (12,23%), tanaman tua/rusak 290.775 ha (15,23%). Tahun 2024 angka sementara luas 1.381.645 ha, produksi 632.022 ton, produktivitas 713 kg/ha. Tahun 2025 diperkirakan luas lahan 1.362.121 ha, produksi 629.313 ton, produktivitas 723 kg/ha.
Produksi kakao Indonesia dari tahun 2007/2008-2023/2024 semakin menurun sedang grinding meningkat. Sekarang kakao sudah menjadi komoditas yang masuk dalam pendanaan BPDP.

