Yogyakarta, mediaperkebunan.id – Karet sangat potensial untuk perdagangan karbon, dengan kemampuan menyerap karbondioksida dalam proses fotosintesis, sehingga mengurangi karbon di atmosfir dan menyimpannya dalam jarigan tanaman dalam beberapa dekade berupa biomasa.
Penyimpanan karbon di kebun karet ada di atas permukaan tanah, di bawah tanah dan bahan organik dari tanaman. Prof (riset) Didiek Hadjar Goenadi, peneliti PPKS Bogor, PT Riset Perkebunan Nusantara; Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia; Anggota Komite Ahli IRRDB (International Rubber Research and Development Board) menyatakan hal ini.
Penyimpanan karbon potensial pada perkebunan karet yang di tanam pada hutan yang terdegradasi atau lahan pertanian. Lahan yang sudah jadi ilalang adalah masalah dan merubah jadi kebun karet dapat menyimpan karbon dan digunakan untuk menghasilkan devisa.
Di Xishuangbanna, Cina Baratdaya, mengubah kebun karet menjadi mendekati hutan, dengan luas lahan 198.490 ha dengan total pembayaran USD0,377 juta NPV tahun 2050. Total C yang tersimpan 14,83 juta ton selama periode model.
Tahun 2016 di Thailand 2,95 juta ha kebun karet dengan produksi 4,342 juta ton karet di perkirakan menyimpan 108 juta ton karbondioksida, karbon yang tersimpan dalam lateks mencapai 24,9 kg. Dengan posisi seperti ini bisa juga di jadikan strategi pasar untuk meningkatkan daya saing karet alam.
Perdagangan karbon dapat menjadi pendapatan tambahan dari petani karet yang menurut kajian Rubber Authority of Thailand, rata-rata 100-3.000 bath (sekitar USD 2,73 – 81,8) tiap ton setara karbon. Malaysia sudah mencanangkan ekonomi sirkuler pada juga Indonesia pada pembangunan jangka menengah-panjang (2020-2024).
Prof Dato Ahmad Ibrahim dari Tan Sri Omar Centre for STI Policy IISDS, UCSI Univeristy, fellow IRRDB, menyatakan karet alam sebagai produk terbarukan dan mudah terurai di alam bisa mendapat manfaat siginifikan dari perdagangan karbon. Dengan kemampuan menyerap karbondioksida yang besar maka berpeluang untuk mendapatkan kredit karbon.
Menanam karet dalam sistim agroforestry dapat meningkatkan penyerapan karbon juga meningkatkan keanekaragaman hayati dan penggunaan lahan yang sustainable. Beberapa pemain dalam rantai pasok karet seperti industri ban bisa investasi membangun kebun karet untuk meng offset emisi karbon. Perlu bersama-sama secara global untuk mencapai nol emisi.
Mengadopsi cara panen yang sustainable dengan penggunaan energi terbarukan dan penerapan ekonomi sirkular akan memperkecil jejak karbon , sehingga produnya semakin menarik di pasar yang mengutamakan produk emisi rendah. Karet alam dapat menggantikan karet sintesis dalam berbagai produk sehingga mengurangi penggunaan produk berbasis minyak bumi dan emisinya.
Produsen karet dapat memasarkan produknya sebagai rendah karbon atau netral karbon pada konsumen dan bisnis yang fokus pada keberlanjutan. Insentif keuangan dari pasar karbon dapat di gunakan untuk mendanai inovasi pada budidaya karet, pengolahan dan pengelolaan limbah.
Tantangan untuk masuk pasar karbon adalah data yang dapat kredible soal penyimpanan karbon oleh perkebunan karet dan mekanisme yang transparan untuk menghitung kredit karbon sangat penting. Perluasan kebun karet harus menghindari tutupan hutan atau dampak negatif lain terhadap lingkungan.
Produsen karet harus dapat dukungan untuk masuk pasar karbon dan kerangka regulasinya sebab selama ini mereka tidak terlalu mengerti tentang perdagangan karbon dan bagaimana ikut serta di dalamnya.
Perlu biaya besar untuk monitoring, pelaporan dan verifikasi emisi karbon. Untuk ini sangat tergantung pada konsultan dari luar. Infrastruktur pendukung seperti energi terbarukan dan fasilitas pengolahan limbah juga masih terbatas sehingga perlu dukungan kebijakan dan regulasi.

