Medan, mediaperkebunan.id – Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sumut berharap Indonesia bisa aktif ikut dalam proyek internasional one belt one road (OBOR) yang dikembangkan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang sudah melingkupi berbagai negara di benua Asia, termasuk beberapa negara di Asia Tenggara.
“Kalau RI ikut OBOR, ekspor komoditas perkebunan asal Sumut lebih cepat sampai ke Tiongkok,” kata Firsal Dida Mutyara selaku Ketua Umum KADIN Sumut di kantor KADIN Sumut, Jalan Sekip Baru, Medan, Selasa (12/8/2025).
Hal tersebut diungkapkan Firsal Dida Mutyara saat berbicara dalam acara diskusi kelompok terpimpin atau focus group discussion (DKT/FGD) dalam skala kecil dengan sejumlah jurnalis ekonomi yang ada di ibukota Provinsi Sumatera Utara.
“Coba lihat posisi Medan atau posisi Pelabuhan Belawan yang begitu dekat dengan Butterworth, Penang, Malaysia,” ucap Firsal Dida Mutyara sambil menunjukan peta internasional kawasan Asia Tenggara melalui slide proyektor kepada para wartawan.
“Thailand dan Malaysia sudah ikut OBOR. Kalau kita ikut OBOR, bayangkan betapa cepatnya komoditas CPO kita, karet kita, kakao kita, dan lainnya, sampai ke Butterworth,” kata Firsal Dida Mutyara.
“Lalu dari Butterworth maka barang tersebut bisa diantar langsung ke Tiongkok hanya dalam waktu lima hari saja. Artinya, barang cepat sampai, biaya transportasi terpotong, dan duit pun cepat berputar,” ucapnya lagi.
Yang selama ini terjadi, beber Firsal Dida Mutyara, kalau ekspor dari Pelabuhan Belawan harus ke Singapura terlebih dahulu, baru ke negara tujuan dengan lamanya waktu tempu mencapai tiga minggu lebih lama ketimbang bila melalui jalur sutra atau ikut OBOR.
Di samping itu, ekspor lainnya asal Sumut juga bisa lebih cepat sampai ke RRT bila RI ikut OBOR. Kenapa RRT? Karena negara panda ini, sambung Firsal Dida Mutyara, menjadi negara banyak melakukan kegiatan impor dari Indonesia dan kawasan Asia Tenggara lainnya.
Menurutnya, hal ini bisa dilakukan dengan mudah oleh Indonesia, yaitu cukup dengan fungsi kapal Roro atau kapal penumpang menjadi kapal ekspor atau perangkat bersama komoditas pertanian, perkebunan, dan lainnya yang berasal dari Sumut.
“Provinsi Aceh, setahu kami, sudah mulai lebih dulu membuka jalur perhubungan dengan Malaysia melalui pengaktifan kapal penumpang dari Lhokseumawe ke Malaysia,” tutur Firsal Dida Mutyara.
Dirinya meyakinkan pemerintah bakal mendapatkan banyak keuntungan dalam proses ekspor kalau ikut OBOR yang merupakan proyek konektivitas internasional ala Tiongkok, sama seperti proyek Jalur Sutera yang pernah muncul di zaman eras kekaisaran di Tiongkok.
Jika hal ini terwujud, Firsal Dida Mutyara meyakinkan pemerintah provinsi (Pemprov) Sumut bakal mendapatkan banyak sekali sumber pendapatan asli daerah (PAD) dari pajak ekspor yang dibagikan pemerintah pusat.
“Ikut OBOR maka APBD Sumut bakal kuat karena mendapatkan devisa yang cukup banyak. Dan di saat yang sama, nilai komoditas perkebunan asal Sumut pun bisa berkibar lebih lama lagi,” tegas Firsal Dida Mutyara selaku ketua Umum KADIN Sumut.

