Tantangan terbesar bagaimana menangani sawit sebagai industri besar yang sudah advance baik di dalam negeri maupun luar negeri adalah memenangkan pertarungan pemikiran. Medan pertarungan sekarang adalah persepsi sawit baik dan buruk, bisa sustainable atau tidak , semuanya merupakan pertarungan pemikiran yang ditunjukkan dalam operasional industri. Bayu Krisnamurthi, Ketua Dewan Pembina MAKSI (Masyarakat Perkelapa Sawitan Indonesia) menyatakan hal ini pada launching International Journal of Palm Oil (IJOP).
“Kita harus kedepankan pemikiran sawit yang baik, bisa sustainable yang ditunjukkan dengan bukti ilmiah. Karena itu terbitnya IJOP ini sangat mendesak, sangat diharapkan dan sesudah terbit disambut sangat antusias,” katanya.
Bayu mencontohkan hasil penelitian Yanto Sarosa dkk dari Fakultas Kehutanan IPB tentang keragaman burung di kebun sawit rakyat Riau yang dimuat pada IJOP volume 1. Hasil penelitian menunjukkan tingkat keragaman burung di kebun sawit tidak kalah dengan kondisi sebelumnya.
Burung-burung telah mampu beradaptasi dan toleran dengan kondisi perkebunan kelapa sawit. “Informasi ini sangat luar biasa itulah gunanya jurnal internasional. Ini merupakan pertangungjawaban ilmiah yang bisa dibuktikan, kemudian jadi informasi objektif di tengah carut marut informasi mengenai sawit yang cenderung negatif,” katanya.
Persepsi sawit di luar negeri saat ini cenderung negatif. Contohnya pernyataan seorang pejabat Indonesia yang menyatakan sawit Indonesia sustainable, dituntut oleh sekelompok masyarakat Perancis dengan alasan kebohongan publik. Satu saja praktek tidak sustainable maka akan menjadi berita dan persepsi buruk di luar negeri.
“Tidak kalah bahayanya persepsi di dalam negeri. Dengan keterbukaan informasi, anak-anak SD sekarang sudah mengakses berita yang menyudutkan sawit dan persepsi mereka soal sawit buruk. Hal ini harus bisa diatasi segera,” katanya.
Menurut Darmono Tarniwiryono, Ketua Umum MAKSI, sungguh sangat ironis, Indonesia yang merupakan negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia dan sawit menjadi sumber pendapatan devisa negara terbesar, belum memiliki jurnal ilmiah berbahasa Inggris bertaraf internasional. Setelah 170 tahun sawit diintroduksikan, Indonesia kini memiliki jurnal ilmiah sawit berbahasa Inggris. Jurnal ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi hasil penelitian sawit di Indonesia yang terpercaya dan menjadi rujukan dunia.
