2nd T-POMI
2024, 11 Mei
Share berita:

Jakarta, Mediaperkebunan,id

Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (P3PI) menyambut baik kebijakan Kementerian Perindustrian yang meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri Pabrik Kelapa Sawit di Indonesia. Menurut Posma Sinurat, Ketua Bidang Pabrik Kelapa Sawit P3PI, sebagai orang-orang yang sehari-hari berada di lapangan, tahu persis bagaimana penggunaan mesin dan suku cadang pabrik kelapa sawit.

“ Sebagai praktisi, kami tahu  mesin apa saja yang sudah dibuat di dalam negeri. Meskipun mesin itu sudah dibuat di dalam negeri tetapi mayoritas tetap membeli dari luar negeri dan kenyataannya memang lebih bagus. Produk luar negeri sangat gencar melakukan penetrasi pasar ke sini sehingga produk dalam negeri kurang berkembang. Kami siap sosialisasikan produk dalam negeri bekerjasama dengan Kemenperin selama produk itu mampu bersaing dari sisi kualitas dan harga,” katanya.

Edward Silalahi , Wakil Ketua P3PI menyatakan dengan 130 mesin dalam satu PKS . maka belanja suku cadang tiap PKS mencapai Rp500 juta/tahun. Bila ada 1,200 PKS maka belanja suku cadang mencapai Rp600 miliar. Pemerintah harus masuk ke industri suku cadang ini karena sekarang mayoritas juga membeli dari Malaysia, termasuk screw press.

“Saya pernah beli screw  press produksi dalam negeri dari pabrik di Medan. Dari segi kemampuan saya yakin pabrik dalam negeri mampu. Masalahnya ingin meraih keuntungan sebesar-besarnya membuat abai mutu. Ternyata umur suku cadang itu tidak sesuai yang dijanjikan, misalnya setelah pemakaian 1000 jam harus dilas, ternyata baru 500 jam harus dilas. Kondisi ini membuat kepercayaan kepada industri dalam negeri turun dan sulit mengembalikanya  lagi untuk percaya,” katanya.

Edward menyakini bahwa kalau produk dalam negeri harganya lebih murah dari produk luar negeri sedang masa pakainya sama, PKS pasti membeli dari dalam negeri. Masalahnya sekarang harganya lebih mahal masa pakai lebih singkat. Kemenperin diminta membina industri suku cadang dan mesin pabrik kelapa sawit ini sehingga produknya menjadi sangat kompetitif dibanding produk impor.

Baca Juga:  Dapatkah Regulasi EUDR Tekan Deforestasi?

“Sebenarnya nasionalisme kami sebagai anak bangsa sering terusik bilsa terus-terusan mengimpor sedang di dalam negeri ada produk serupa. Bangkitkan kepercayaan kami sebagai konsumen dengan produk yang berkualitas dan bersaing dari sisi harga. Maka tanpa diminta PKS-PKS pasti akan membeli dari pabrik di dalam negeri,” katanya,