Bogor, mediaperkebunan.id – Pengembangan Kawasan kelapa seluas 221.890 ha saat ini permasalahan yang ada adalah benih varietas unggul tidak cukup. Karena itu ada usul untuk mengimpor benih kelapa.
Dwi Asmono, Direktur Sustainability, Research and Development PT Sampoerna Agro Tbk/Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, dalam kapasitasnya sebagai pelaku sejarah pengembangan kelapa hibrida dengan mengimpor dari Pantai Gading tahun 1980an minta jangan ada impor benih kelapa.
“Kita jangan ulangi kesalahan masa lalu. Waktu itu baru lulus kuliah saya bekerja di kebun induk untuk menghasilkan kelapa hibrida PB-121 hasil persilangan Malayan Yellow Dwarf (Kelapa Genjah Malaysia) x West African Tall (Kelapa Dalam Afrika Barat. Introduksi yang terburu-buru tanpa prosedur karantina dan evaluasi yang memadai ternyata kelapanya tidak tahan terhadap Phytoptora palmivora, menyebabkan busuk pucuk dan buah kelapa gugur,” kata Dwi.
Tahun 1970-1980an bahan baku minyak goreng adalah minyak kelapa. Waktu itu diperkirakan peningkatan produksi kopra tidak akan mampu mengejar kebutuhan industri minyak goreng sehingga dibuat terobosan untuk meningkatkan produksi kopra.
Diintroduksi kelapa hibrida PB-121 yang merupakan persilangan Kelapa Genjah Malayisa dan Kelapa Dalam Afrika Barat dari Pantai Gading yang produktivitas kopranya tinggi. Di kebun Bangun Purba 9,5% dari populasi terserang busuk pucuk. Dilakukan percobaan untuk mendapatkan tanaman yang tahan tetapi tidak berhasil. Kebun kelapa yang dibangun PTPN gagal dibawah 15 tahun. Penanaman dengan tumpang sari juga gagal.
Kelapa Hibrida Indonesia (KHINA-1) yang merupakan persilangan Kelapa Genjah Kuning Nias dan Kelapa Dalam Tenga produktivitasnya tinggi dan lebih tahan terhadap busuk batang. Demikian juga KHINA 2 hasil persilangan Kelapa Genjah Kuning Nias dan Kelapa Dalam Bali dan KHINA 3 hasil persilangan Kelapa Genjah Kuning Nias dan Kelapa Dalam Palu. Akhirnya pengembangan kelapa diganti dari PB-121 ke KHINA.
“Berbeda dengan sawit yang center of origin Afrika dan Amerika Latin, kelapa justru center of origin adalah Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan benih kembangkan kelapa hibrida seperti KHINA, jangan impor benih. Sejarah kegagalan masa lalu jangan terulang lagi,” kata Dwi.

