Jakarta, mediaperkebunan.id – Pada era kolonial, Jabar bagian tengah dan selatan yang disebut Priangan adalah sentra utama penanaman kakao. Pada masa itu di Garut ada pabrik kakao yang bernama Bunisari Lendra, yang menunjukkan bahwa bukan sekedar penghasil biji. Kemungkinan yang ditanam pada masa itu varietas Criolo yang merupakan fine flavor cocoa, tetapi karena tidak tahan penyakit heliopeltis dan hama penggerek buah sehingga beralih ke forastero. Jabar berubah dari penghasil specialty kakao menjadi bulk cocoa. Ganjar Yudniarsa, Kepala Dinas Perkebunan Jawa Barat menyatakan hal ini.
Saat ini 3 kabupaten terbesar penghasil kakao di Jabar adalah Kabupaten Ciamis 1.654 ha, Pangandaran 888 ha dan Tasikmalaya 836 ha. Meskipun luas areal kecil, Kabupaten Kuningan produktivitasnya paling tinggi yaitu 894 kg/ha.
Total luas kebun kakao di Jabar tahun 2020 sebesar 6.291 ha sedang tahun 2024 sebesar 5.827 ha, rata-rata tiap tahun menurun 2,98%. Tetapi produksi malah semakin meningkat dari 816 ton tahun 2020 jadi sebesar 1.539 ton tahun 2024 atau rata-rata tiap tahun naik 22,83%.
Banyak kebun kakao di Jabar yang beralih fungsi ke tanaman lain atau non pertanian karena dianggap lebih menguntungkan. Tanamannya juga banyak yang sudah tua, kurang pemupukan secara berimbang dan minim rehabilitasi. Minat generasi muda rendah sehingga kakao Jabar semakin terancam,
Dari sisi lahan tersedia di Tasik, Ciamis, Pangandaran dan Kabupaten Bandung, juga potensi tumpang sari dengan kelapa. Disbun Jabar akan bekerjasama dengan Puslitkoka untuk distribusi klon unggul dan industri sebagai offtaker biji fermentasi. Industri cokelat di Jabar juga tumbuh skala UMKM yang fokus pada cokelat specialty.
Dengan penduduk 50 juta orang Jabar adalah pasar hilir terbesar di Indonesia. Di Jabar saat ini ada 16 industri cokelat artisan from bean to bar yang membutuhkan 384 ton biji kakao pertahun. Dengan luas lahan yang semakin menurun tetapi produksi meningkat menunjukkan petani Jabar siap intensifikasi.
Arah pengembangannya pada hulu dengan pembuatan demplot, peremajaan, ekstensifikasi pada lahan potensial, penggunaan benih unggul baik klon maupun hibrida disertai penerapan GAP. Agroforestry dan tumpang sari dengan tanaman pangan/hortikultura.
Sisi SDM/kelembagaan dengan penguatan kelembagaan petani, pelatihan GAP dan pasca panen berbasis kurikulum nasional dan SNI; program regenerasi petani perkebunan. Pasca panen dan hilirisasi dengan fermentasi , pengeringan, sortasi dan grading sesuai standar ekspor; fasilitasi rumah fermentasi dan gudang penyimpanan; branding dan indikasi geografis kakao Jabar; digitalisasi data rantai pasok dan tracebility. Pembiayaan dengan KUR, CSR untuk peremajaan dan pasca panen; kemitraan dengan industry cokelat dan eksportir.

