Medan, mediaperkebunan.id – Serangan kumbang tanduk Oryctes rhinoceros masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan produktivitas kelapa sawit terutama pada fase pembibitan dan tanaman belum menghasilkan (TBM). Hal tersebut disampaikan Hafni Ramadani, Research & Advisory Entomologist PT London Sumatera dalam pemaparannya pada 3rd ISGANO 2026 di Adimulia Hotel, Medan
Menurut Hafni, Oryctes rhinoceros di kebun sawit tergolong hama utama karena menyerang tanaman sejak fase nursery, tanaman muda, hingga tanaman menghasilkan. Serangan terjadi ketika kumbang dewasa menggerek pupus (daun yang belum membuka) dan memakannya sehingga mengganggu titik tumbuh tanaman.
Hafni menjelaskan bahwa siklus hidup Oryctes rhinoceros berlangsung sekitar satu tahun. Tahapan dimulai dari telur (8–12 hari), larva dengan tiga instar (3–4 bulan), pupa (17–28 hari), hingga imago atau kumbang dewasa yang dapat hidup sekitar 6–7 bulan
“Dengan siklus yang relatif panjang dan fase larva yang lama, pengendalian di breeding site menjadi sangat krusial,” jelasnya.
Tempat berkembang biak (breeding site) umumnya terdapat pada batang kelapa sawit hasil stacking, chipping, serta tumpukan kompos atau jangkos. Oleh karena itu, tindakan preventif harus dilakukan sejak awal. Salah satunya adalah memastikan rumpukan chipping tidak melebihi dua meter untuk meminimalkan lokasi ideal peletakan telur.
Kerusakan akibat Oryctes paling sering terdeteksi di pembibitan. Bibit yang rusak tidak direkomendasikan untuk ditanam di lapangan karena berisiko mati atau mengalami busuk pupus. Dampaknya bukan hanya kehilangan bibit, tetapi juga kerugian biaya pupuk dan perawatan yang telah dikeluarkan.
Pada tanaman baru atau belum menghasilkan (0–2 tahun), serangan dapat memperlambat pertumbuhan secara signifikan. Jika tidak dikendalikan, produksi pada tahun pertama dapat menurun hingga 60 persen atau setara dengan kehilangan sekitar 6 ton per hektare.
Sementara pada tanaman menghasilkan (TM 1–3), serangan yang tidak tertangani dapat menyebabkan kematian akibat pembusukan pupus yang berujung pada biaya replanting dan perawatan ulang.
“Serangan di fase awal akan berdampak panjang terhadap performa kebun. Karena itu pengendalian tidak bisa parsial, harus terintegrasi,” tegas Hafni.
Hafni memaparkan beberapa metode pengendalian yang dapat diterapkan secara terpadu:
1. Penanaman Legume Cover Crop (LCC)
Sebelum tanam, batang tanaman ditutup dengan LCC seperti Mucuna bracteata, Calopogonium mucunoides, dan Pueraria javanica. Penutupan ini bertujuan mencegah kumbang meletakkan telur pada batang.
Data menunjukkan bahwa pada lahan tanpa cover Mucuna, serangan bisa mencapai lebih dari 13 persen per hektar per bulan (sekitar 19 pokok/ha). Sementara pada lahan dengan cover yang baik, tingkat serangan turun menjadi sekitar 5 persen per hektar per bulan (sekitar 7 pokok/ha)
2. Pengendalian Biologis dengan Metarhizium anisopliae
Jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae diaplikasikan dengan cara penyemprotan atau penaburan pada kompos dan chipping. Agen hayati ini efektif menyerang larva di breeding site, sehingga memutus siklus hidup hama sejak fase awal
3. Pemasangan Pheromone Trap
Sebelum tanam, pheromone trap dipasang dengan dosis satu unit untuk 2–5 hektare dan diganti setiap dua bulan. Pada tanaman dewasa, perangkap dipasang di pinggir blok jika terdapat indikasi serangan.
Satu perangkap mampu menangkap 200–300 ekor kumbang dalam waktu dua bulan, sehingga efektif menekan populasi imago
4. Pengendalian Kimiawi
Aplikasi insektisida granular berbahan aktif karbosulfan dilakukan secara blanket pada pupus dan seluruh ketiak daun dengan dosis 5 gram per dua minggu atau 10 gram per bulan. Aplikasi dapat dilakukan hingga dua tahun setelah tanam
Selain itu, dilakukan juga blanket spraying menggunakan insektisida golongan piretroid seperti L-sihalotrin dan sipermetrin dengan dosis 5–10 ml per liter. Penyemprotan diarahkan tepat ke pupus menggunakan knapsack sprayer, dengan volume larutan 70–200 ml tergantung umur tanaman, dan frekuensi 2–3 kali per bulan
5. Penggunaan Jaring
Pada fase TBM, jaring dililitkan mengelilingi ketiak daun untuk mencegah kumbang masuk dan menggerek pupus. Pergantian jaring dilakukan setiap 3–6 bulan
6. Pengendalian Manual
Breeding site harus dibongkar untuk mengutip telur, larva (gendon), pupa, dan imago secara manual. Metode ini sangat direkomendasikan terutama ketika penutupan Mucuna gagal optimal
Hafni menegaskan bahwa pengendalian Oryctes rhinoceros di kebun sawit tidak dapat mengandalkan satu metode saja. Pendekatan terpadu yang mengkombinasikan langkah preventif, biologis, mekanis, dan kimiawi menjadi kunci utama.
“Fokus terbesar harus pada pencegahan dan pengelolaan breeding site. Jika kita bisa memutus siklus hidupnya, maka tekanan populasi di lapangan akan jauh berkurang,” ujarnya.

