Medan, mediaperkebunan.id – Ancaman penyakit ganoderma yang kian serius terhadap keberlanjutan industri kelapa sawit nasional menjadi fokus utama dalam 3rd International Symposium on Ganoderma (ISGANO) 2026 yang resmi digelar hari ini. Kegiatan ini mempertemukan petani, praktisi, akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan industri sawit dari berbagai daerah di Indonesia untuk saling berdiskusi dan berbagi solusi bersama untuk menghadapi serangan ganoderma secara nasional.
3rd ISGANO 2026 resmi dibuka oleh Ir. Baginda Siagian, M.Si mewakili Plt Direktur Jenderal Perkebunan. Dalam sambutannya, Baginda Siagian mengingatkan perjalanan panjang sawit Indonesia yang bermula dari empat butir benih pada tahun 1848 hingga berkembang menjadi sekitar 16,38 juta hektar pada 2026.
“Ganoderma saat ini telah menyerang sekitar 30–35 persen kebun sawit. Kita belum memiliki state of the art nasional, sehingga diperlukan kolaborasi semua pihak untuk menyusun pedoman bersama dalam menghancurkan ganoderma secara kolektif,” tegasnya. ISGANO dinilai sebagai langkah awal menuju penguatan state of the art pengendalian ganoderma di Indonesia.
Pemimpin Umum Media Perkebunan, Ir. Bambang, MM, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menyelamatkan sawit sebagai komoditas strategis nasional. Ia menyebut sawit sebagai anugerah yang memiliki efisiensi tertinggi dibandingkan tanaman perkebunan lainnya.
“Sawit menyumbang lebih dari 80 persen devisa sektor perkebunan dan hampir seluruh aspek kehidupan kita bersentuhan dengan produk turunan sawit dari pangan hingga energi terbarukan,” ungkapnya.
Bambang juga mengingatkan agar sawit tidak terus-menerus dijadikan kambing hitam isu lingkungan. Menurutnya, sawit memiliki daya serap tinggi dan mampu mengurangi run off dibandingkan tanaman perkebunan lain seperti gandum dan kedelai. Ia mendorong percepatan sertifikasi ISPO yang saat ini baru mencapai sekitar 35 persen serta mengapresiasi peran BPDP dalam pengembangan sumber daya manusia dan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
“Negara harus hadir menjamin keberlanjutan sawit Indonesia. Ganoderma harus kita diskusikan dan kendalikan agar sawit tumbuh pada tempatnya,” tegasnya.
Ketua Panitia Pelaksana ISGANO 2026, Hendra J. Purba, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir. Ia menegaskan bahwa ganoderma merupakan ancaman nyata bagi masa depan sawit Indonesia.
“Jika tidak ditangani secara serius dan terstruktur, seperti yang dikatakan oleh Tony Liwang, pada tahun 2039 seluruh perkebunan kelapa sawit Indonesia berpotensi terdampak ganoderma. ISGANO hadir sebagai ruang bersama untuk mencari solusi dari ancaman tersebut,” ujarnya.
Ketua Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia (p3pi) Bidang Agronomi, Dr. (c). H. Dadang Gusyana, S.Si., M.P, menegaskan bahwa ganoderma merupakan critical point yang harus dihadapi secara serius.
“P3PI berkomitmen untuk berpikir dan bekerja keras, berkolaborasi, serta berdedikasi dalam mencari solusi ganoderma demi kejayaan sawit Indonesia,” ujarnya.
Sebagai keynote speaker, Direktur Utama PTPN IV PalmCo yang diwakili Abdul Muthalib memaparkan kekhawatiran atas dampak ganoderma terhadap produktivitas. Ia menyebut sekitar 80 persen kematian tanaman sawit disebabkan oleh ganoderma dengan total serangan mencapai 860.533 pohon di kebun PalmCo dari tingkat ringan hingga berat.
“Ganoderma berpotensi memicu krisis ekonomi jika tidak dikendalikan secara serius,” tegasnya.
Melalui ISGANO 2026, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa pengendalian ganoderma tidak dapat dilakukan secara parsial atau kasus per kasus. Diperlukan sinergi nasional, kolaborasi yang berkelanjutan, dan komitmen bersama agar industri kelapa sawit Indonesia tetap produktif dan berkelanjutan.

