Medan, mediaperkebunan.id – Di tengah posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar dunia, tantangan produktivitas justru menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu faktor krusial yang disorot adalah rendahnya fruit set yang berdampak pada berat tandan dan berat jenis tandan (BJR).
Hal tersebut disampaikan Agus Eko Prasetyo dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dalam pemaparannya pada 3rd ISGANO 2026 di Medan. Menurutnya, meskipun secara alami fruit set tidak sepenuhnya bergantung pada serangga penyerbuk, faktor penyerbukan tetap menjadi titik kritis dalam menentukan keberhasilan pembentukan buah.
“Produksi sawit dunia meningkat, tetapi potensi produktivitasnya justru cenderung menurun terutama dalam dua tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah masalah penyerbukan yang berdampak pada fruit set dan BJR,” ujarnya.
Sebagai bagian dari solusi, PPKS melakukan eksplorasi ke Tanzania, negara yang memiliki tujuh dari delapan spesies Elaeidobius yang ada di dunia. Tingkat keragaman di wilayah tersebut tinggi dengan kondisi fruit set alami mencapai rata-rata lebih dari 70 persen
Namun, PPKS tidak serta-merta menguji seluruh spesies Elaeidobius tersebut. Tim melakukan seleksi berbasis perilaku, preferensi bunga, daya tahan hidup, serta potensi efektivitas polinasi.
Hasil kajian menunjukkan bahwa Elaeidobius subvittatus memiliki daya tahan tinggi dan siklus hidup relatif panjang (18–48 hari) serta sangat tertarik pada bunga betina sawit. Dalam kombinasi dengan spesies lain, potensi fruit set dapat meningkat hingga mendekati 90 persen.
Selain itu, pengujian preferensi menunjukkan bahwa kumbang aktif mengunjungi bunga jantan saat anthesis sejak pagi hingga siang hari, serta aktif pada bunga betina reseptif. Pola kunjungan ini dinilai strategis untuk meningkatkan efektivitas penyerbukan.
Proses introduksi tidak berlangsung singkat. Pengajuan izin dimulai Agustus 2024 dan membutuhkan waktu sekitar enam bulan hingga akhirnya memperoleh izin resmi pada 7 Februari 2025 dari Menteri Pertanian RI.
Elaeidobius diintroduksi dalam fase larva dan pupa, kemudian menjalani uji karantina selama sembilan bulan (April–Desember 2025) di Insektarium PPKS Unit Marihat, Sumatera Utara di bawah pengawasan Badan Karantina
Hasilnya menunjukkan bahwa tiga spesies asal Tanzania yaitu Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus bersifat spesifik pada bunga kelapa sawit dan tidak berpindah ke 35 tanaman lain yang diuji, termasuk kelapa dan aren. Analisis juga memastikan tidak adanya organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK A1) serta tidak ditemukan mekanisme biologis yang menjadikan ketiganya sebagai vektor penyakit.
PPKS menegaskan bahwa ketiga spesies Elaeidobius tersebut dikategorikan sebagai alien species terkelola, bukan spesies invasif. Karakter biologinya menunjukkan ketergantungan kuat pada bunga jantan sawit untuk reproduksi, sensitif terhadap faktor lingkungan, dan tidak memiliki kemampuan menyebar luas di luar habitat spesifiknya
Laporan hasil uji karantina telah disampaikan pada 30 Januari 2026 di hadapan Komisi Agen Hayati dan otoritas karantina. Berdasarkan hasil sidang, introduksi dinyatakan layak dilepas dengan monitoring berkelanjutan
“Kabar baiknya, secara ilmiah dan regulasi sudah dinyatakan layak. Tinggal menunggu proses pelepasan resmi,” ujar Agus.
Dengan langkah ini, PPKS berharap kehadiran spesies penyerbuk baru dapat memperkuat layanan polinasi di perkebunan sawit Indonesia, mendongkrak fruit set, meningkatkan BJR, serta mengembalikan tren produktivitas nasional ke arah yang lebih positif.

