Medan, mediaperkebunan.id – Penyakit tanaman masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam budidaya kelapa sawit di berbagai belahan dunia. Untuk penyakit endemik yang bersifat tular tanah dan sulit dikendalikan secara konvensional, pendekatan pemuliaan genetik untuk ketahanan penyakit dinilai sebagai solusi paling efektif, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Sejir Chaouch, peneliti dan breeder dari PalmElit, dalam presentasinya mengenai Breeding for Resistance to Diseases dalam acara 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026.
Menurutnya, kelapa sawit menghadapi berbagai penyakit di berbagai kawasan dunia. Sebagian besar penyakit dapat ditekan melalui pengendalian terpadu seperti praktik budidaya, pengendalian kimia, dan biologis. Namun, untuk tiga penyakit endemik utama, pendekatan genetik menjadi satu-satunya solusi jangka panjang yang terbukti efektif.
“Tiga penyakit endemik yang paling membatasi budidaya kelapa sawit adalah vascular wilt akibat Fusarium oxysporum f.sp. elaeidis di Afrika, bud rot di Amerika Latin, serta basal stem rot (BSR) akibat Ganoderma boninense di Asia Tenggara dan Afrika,” jelasnya.
Pendekatan pemuliaan ketahanan penyakit dilakukan dengan mengumpulkan bukti ketahanan genetik langsung dari lapangan. Uji ketahanan dilakukan pada lahan yang telah terkontaminasi patogen untuk mengidentifikasi sumber tanaman yang toleran maupun rentan. Selain itu, dikembangkan uji inokulasi dini buatan yang dikorelasikan dengan hasil lapangan guna mempercepat proses seleksi.
“Fokus pemuliaan adalah mendapatkan ketahanan parsial non-spesifik, karena tipe ketahanan ini paling berpeluang bersifat tahan lama dan berkelanjutan,” ungkap Chaouch.
Pendekatan ini dalam uji lapangan telah terbukti berhasil untuk pengendalian Fusarium wilt, hampir tervalidasi penuh untuk Ganoderma, dan saat ini masih dalam tahap validasi untuk bud rot.
Upaya pemuliaan untuk ketahanan Fusarium telah dilakukan selama lebih dari tiga dekade. Hasilnya, penggunaan benih tahan Fusarium mampu menekan tingkat kematian tanaman yang sebelumnya dapat mencapai lebih dari 60% pada material rentan.
“Di Afrika, Fusarium wilt hampir ‘menghilang’ dari perkebunan selama benih tahan digunakan secara konsisten,” jelasnya.
Sejak 1970-an, PalmElit telah menerapkan uji ketahanan dini di pembibitan. Hingga kini, lebih dari 19.000 persilangan telah diuji, menghasilkan sistem penilaian ketahanan yang semakin presisi termasuk pengembangan Marker Assisted Selection (MAS) berbasis QTL.
Untuk penyakit Ganoderma, PalmElit bekerja sama dengan PT Socfin Indonesia dalam pengembangan dan pengujian material tanam toleran. Sejak 2010-an, uji ketahanan dini Ganoderma telah distandarisasi dan diaplikasikan secara luas.
Lebih dari 5.600 persilangan telah melalui proses seleksi dengan pengamatan lapangan pada lebih dari 1.800 hektare kebun di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan material toleran Ganoderma mampu menurunkan kehilangan produksi lebih dari 30% dibandingkan material rentan.
“Genetika adalah perlindungan paling tahan lama dan paling menguntungkan terhadap Ganoderma. Meski sulit mencapai nol serangan, ketahanan parsial mampu memperlambat dan menekan tingkat kerusakan secara signifikan,” ujarnya.
PalmElit–Socfindo juga tercatat sebagai kemitraan pertama yang menghadirkan benih toleran Ganoderma ke pasar, dengan ketahanan tingkat menengah yang telah teruji.
Ke depan, tantangan yang dihadapi adalah keberadaan Fusarium dan Ganoderma secara bersamaan di beberapa wilayah Afrika dan Asia. Oleh karena itu, pemuliaan diarahkan untuk mendapatkan ketahanan ganda terhadap kedua penyakit tersebut, didukung oleh riset lanjutan di bidang genetika molekuler.
“Pengembangan penanda molekuler akan mempercepat proses pemuliaan dan membantu memahami mekanisme genetik ketahanan penyakit secara lebih mendalam,” kata Chaouch.
Ia menegaskan bahwa ketahanan genetik merupakan bagian penting dari Integrated Pest Management (IPM) yang berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan industri sawit, sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

