Medan, mediaperkebunan.id — Pengelolaan nutrisi dan kesehatan tanah menjadi pondasi utama dalam meningkatkan ketahanan tanaman kelapa sawit terhadap serangan penyakit, khususnya Ganoderma boninense. Hal ini disampaikan Dr. Witjaksana Darmosakoro dalam pemaparannya bertajuk “Nutrisi untuk Membuat Tanaman Lebih Tahan terhadap Penyakit” pada rangkaian 3rd ISGANO 2026 di Hotel Adimulia Medan.
Menurut Witjaksana, ketahanan tanaman tidak semata ditentukan oleh pengendalian patogen secara langsung, melainkan oleh kondisi tanah dan keseimbangan hara. Ia mengibaratkan tanaman seperti tubuh manusia: tanah yang sehat adalah sistem imun, sementara nutrisi adalah energi untuk melawan penyakit.
“Kesehatan tanah yang baik ditandai dengan keseimbangan sifat fisik, kimia, dan biologi akan menghasilkan akar yang fungsional, serapan hara yang stabil, serta respon ketahanan tanaman yang lebih efektif,” ujarnya.
Salah satu indikator penting kesehatan tanah adalah kandungan karbon organik (C-organik). Pada perkebunan kelapa sawit di tanah mineral, kadar C-organik ideal berada pada kisaran 2–3 persen. Pada level ini, kapasitas tukar kation (KTK) tanah meningkat, keseimbangan hara seperti kalium (K), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) menjadi lebih stabil, serta aktivitas mikroba tanah lebih aktif. Kondisi tersebut memperkuat jaringan tanaman dan meningkatkan toleransi terhadap infeksi Ganoderma.
Witjaksana menjelaskan serangan Ganoderma terjadi melalui pelepasan enzim seperti pektinase, selulase, dan ligninase yang meluluhkan dinding sel akar dan batang bawah sawit. Namun tanaman yang memiliki keseimbangan hara yang baik mampu membangun dua lapis pertahanan utama yakni barier struktural dan barier biokimia. Barier struktural diwujudkan melalui penguatan dinding sel lewat lignifikasi dan suberinisasi, sementara barier biokimia melibatkan pembentukan senyawa fenolik, antioksidan, serta aktivasi hormon pertahanan seperti asam jasmonat.
“Ketika dinding sel rusak, tanaman akan merespons dengan biosintesis senyawa pertahanan. Proses ini membutuhkan energi yang besar. Karena itu, keterkaitan metabolisme energi dengan ketahanan penyakit menjadi sangat penting,” jelasnya.
Dalam konteks ini, unsur hara seperti magnesium (Mg) dan fosfor (P) berperan dalam penyediaan energi (ATP), sementara kalium (K) mengatur osmoregulasi dan aktivasi enzim. Kalsium (Ca) dan boron (B) memperkuat struktur dinding sel, sehingga jaringan tidak mudah ditembus patogen. Kekurangan atau ketidakseimbangan unsur-unsur tersebut akan membuat jaringan tanaman rapuh dan memperlambat respon pertahanan.
Selain unsur esensial, Witjaksana juga menyoroti peran silikon (Si) sebagai beneficial element. Meskipun bukan unsur hara esensial, silikon terbukti dapat meningkatkan ketahanan mekanik jaringan tanaman dan mengaktifkan sistem pertahanan, terutama pada bibit dan tanaman muda sawit.
Pendekatan pengendalian Ganoderma perlu dilakukan secara terpadu. Tidak hanya melalui pemupukan berimbang dan perbaikan bahan organik tanah, tetapi juga melalui pemanfaatan mikroba non-patogen, aktivator enzim, dan riset lanjutan seperti identifikasi metabolit penanda toleransi Ganoderma dan protein channel kalium untuk mendukung program pemuliaan tanaman.
“Ganoderma sering muncul sebagai penyakit lanjutan yang dipicu oleh patogen lain atau kondisi tanah yang tidak sehat. Karena itu, fokus kita seharusnya bukan hanya mematikan patogen, tetapi memperkuat tanaman dan ekosistem tanahnya,” tegas Witjaksana.

