Medan, mediaperkebunan.id – Saat ini penggunaan bibit kelapa sawit yang toleran terhadap Ganoderma merupakan salah satu kunci keberhasilan kebijakan nasional Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dan agenda peningkatan produktivitas sawit berkelanjutan. Di tengah dominasi kebun sawit generasi lanjut yang telah terpapar akumulasi Ganoderma boninense, replanting tanpa material tanam yang memiliki ketahanan memadai akan berisiko mengulang kegagalan produktivitas pada siklus tanam berikutnya.
Ir. Indra Syahputra, MP, selaku Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia/GAPKI/ Kepala SSPL PT. Socfin Indonesia mengungkapkan bahwa hingga saat ini Indonesia baru memiliki tujuh produsen bibit kelapa sawit yang telah memproduksi material tanam toleran Ganoderma. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain PT Socfin Indonesia yang merilis pertama kali pada 2013, disusul Lonsum (2015), Sinarmas (2016), PPKS (2017), dan selanjutnya ada Asian Agri, Bakrie, dan Astra.
“Total kapasitas produksi bibit toleran Ganoderma saat ini baru sekitar 17 juta kecambah per tahun. Angka ini masih sangat jauh dari kebutuhan nasional,” ujar Indra.

Ia menjelaskan, dari sekitar 17 juta hektare kebun kelapa sawit nasional diperkirakan sekitar 40 persen telah memasuki generasi tanam ke-2 hingga ke-3, bahkan lebih sehingga kebutuhan replanting menjadi sangat mendesak. Pada kebun-kebun generasi lanjut tersebut, akumulasi Ganoderma sudah berada pada level berbahaya dan berpotensi menurunkan produktivitas secara signifikan.
“Jika kita asumsikan ada 16 juta hektare kebun yang harus diremajakan, maka kebutuhan replanting mencapai sekitar 640 ribu hektar per tahun. Dengan kebutuhan rata-rata 200 kecambah per hektar, Indonesia seharusnya membutuhkan sekitar 128 juta kecambah setiap tahun. Sementara kapasitas yang ada baru 17 juta. Artinya, kita masih kekurangan sangat besar,” tegasnya.
Indra menekankan bahwa penggunaan bibit toleran Ganoderma telah terbukti secara nyata di kebun komersial. Di kebun Socfin, blok yang menggunakan material resisten Ganoderma menunjukkan tingkat infeksi Ganoderma yang jauh lebih rendah. Pada umur tanaman yang sama, kebun yang menggunakan material tahan Ganoderma mencatat tingkat serangan sekitar 3%, sementara kebun yang tidak menggunakan bibit toleran dapat mencapai 14%.
“Ini bukan uji coba skala kecil, tapi data nyata di kebun komersial. Artinya, material tanam toleran Ganoderma benar-benar bekerja dan mampu menekan laju infeksi,” jelasnya.
Meski demikian, Indra mengakui bahwa tingkat ketahanan antarsumber benih memang bervariasi tergantung pada metode seleksi dan screening yang digunakan. Namun secara umum, seluruh material resisten tersebut terbukti jauh lebih baik dibandingkan bibit konvensional.
Ia juga menyoroti masih rendahnya kesadaran penggunaan bibit tahan Ganoderma, baik di tingkat perusahaan maupun petani, termasuk dalam program peremajaan sawit rakyat (PSR). Banyak kebun yang diremajakan masih menggunakan bibit biasa atau bibit yang tidak memiliki ketahanan terhadap Ganoderma sehingga berisiko menghadapi masalah yang sama di masa depan, terutama di lahan gambut.
“Padahal jika dihitung secara ekonomi, selisih harga bibit itu sangat kecil dibandingkan kerugian jangka panjang. Selisih sekitar Rp1,8 juta per hektar untuk bibit tahan Ganoderma bisa mencegah potensi kehilangan ratusan juta hingga mendekati Rp1 miliar per hektar selama 25 tahun,” paparnya.

Indra menegaskan bahwa tantangan Ganoderma tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan pendekatan terpadu melalui penggunaan bibit toleran Ganoderma, pengelolaan replanting yang terencana, serta penguatan kolaborasi melalui Konsorsium Ganoderma Indonesia agar pengendalian dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis data.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, Indra mengajak pelaku industri sawit, peneliti, praktisi, hingga pembuat kebijakan untuk berpartisipasi dalam 3rd ISGANO (International Symposium Ganoderma) 2026 Conference and Exhibition yang akan diselenggarakan pada 10–11 Februari 2026 di Hotel Adimulia Medan.
Pada 3rd ISGANO 2026 ini tersedia pameran bibit kelapa sawit toleran Ganoderma, yang menampilkan material dan inovasi terkini dari PPKS, PT Socfin Indonesia, serta Bakrie. Melalui pameran ini, peserta dapat melihat secara langsung perkembangan bibit sawit yang toleran Ganoderma, berdiskusi dengan pemulia dan praktisi, serta memperoleh pemahaman komprehensif.
Untuk mengikuti 3rd ISGANO 2026, Kawan Medbun dapat mengunjungi isgano.com atau menghubungi contact person berikut (+62) 812 8718 2301 (Ika), (+62) 811 1078 02 (Sekretariat), (+62) 812 8169 8248 (Kevin).

