Medan, mediaperkebunan.id – Pengendalian penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma tidak cukup hanya dengan tindakan kuratif di tingkat tanaman. Pendekatan harus dimulai dari pengelolaan tanah secara menyeluruh, meliputi sanitasi teknis, perbaikan sifat fisika-kimia tanah, serta penguatan aspek biologi tanah. Hal ini ditegaskan Prof. Abdul Rauf dalam pemaparannya pada 3rd International Symposium Ganoderma (ISGANO) 2026 di Medan.
Menurut Guru Besar Ilmu Tanah dan Pengelolaan DAS Universitas Sumatera Utara tersebut, pengendalian Ganoderma berbasis tanah bertumpu pada tiga pilar utama yakni sanitasi mekanis, perbaikan karakteristik tanah, dan peningkatan mikroba antagonis di dalam tanah.
Prof. Rauf menekankan pentingnya sanitasi saat replanting. Spora Ganoderma dapat bertahan pada tunggul dan sisa akar tanaman sebelumnya sehingga menjadi sumber infeksi pada generasi tanam berikutnya.
“Sanitasi setelah replanting sangat penting karena spora masih tinggal di batang dan sisa akar. Jika tidak dibersihkan dengan benar, serangan bisa berulang pada generasi ketiga bahkan kelima,” jelasnya.
Prosedur sanitasi dilakukan dengan membongkar tunggul dan sisa akar terinfeksi. Kemudian dicincang, dirumpuk, dan dibenamkan khususnya pada lahan gambut dengan sistem dua baris satu rumpuk.
Selain itu, pembumbunan tanah (soil earthing) pada pangkal batang dilakukan untuk menutup jaringan terinfeksi sekaligus menghambat serangan lanjutan. Pada tanaman yang sudah menunjukkan gejala, pembuatan parit isolasi di sekeliling tanaman sakit diperlukan untuk memutus kontak akar dengan tanaman sehat. Metode ini lebih efektif bila dikombinasikan dengan aplikasi sulfur
Pada lahan gambut, sistem tanam big hole menjadi salah satu strategi preventif. Lubang tanam berukuran besar diisi kompos atau tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk meningkatkan kesuburan, memperbaiki kapasitas menahan air, sekaligus membantu memutus rantai perkembangan Ganoderma.
Prof. Rauf juga mengingatkan bahwa tidak semua Ganoderma bersifat patogen. Sebagian berperan sebagai dekomposer atau sekadar organisme saprofit. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan tanah menjadi faktor penentu apakah jamur berkembang sebagai parasit atau tidak.
Dari sisi kimia, pengaturan pH tanah menjadi langkah krusial. Ganoderma umumnya berkembang optimal pada pH 3,7–5,0. Untuk menekan pertumbuhannya, pH tanah perlu ditingkatkan hingga di atas 6,0 melalui aplikasi 8–10 kg kaptan atau dolomit per lubang tanam.
Selain itu, pengelolaan hara terutama magnesium (Mg) dan kalium (K) harus diperhatikan. Keseimbangan dan peningkatan unsur hara tersebut, disertai pengelolaan pH dan perbaikan lingkungan tanah, dapat menghambat perkembangan Ganoderma di lapangan.
“Tanaman sawit memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Jika sifat fisik dan kimia tanah dikelola dengan baik, daya tahan tanaman terhadap infeksi akan meningkat,” tambahnya.
Secara biologis, aplikasi agen hayati seperti Trichoderma sp. atau Gliocladium dilakukan pada tanah sekitar perakaran. Trichoderma berfungsi menguasai ruang tumbuh jamur dan bersaing dengan Ganoderma.
Penggunaan mikoriza juga direkomendasikan sebagai pupuk hayati untuk memperkuat sistem perakaran dan meningkatkan ketahanan tanaman. Dosis aplikasi dilakukan bertahap, mulai dari 50 gram pada bibit, 100–500 gram saat penanaman di lapangan, 200 gram pada TBM, hingga 500 gram pada tanaman menghasilkan di bawah 10 tahun
Namun Prof. Rauf mengingatkan bahwa pemberian agen hayati harus terukur dan tidak berlebihan. Berdasarkan kajian, aplikasi Trichoderma yang terlalu tinggi justru dapat menghambat perkembangan mikoriza yang juga berperan penting dalam kesehatan tanaman.
“Fokusnya bukan hanya mengobati tanaman sakit, tetapi memperbaiki ekosistem tanah agar tidak kondusif bagi perkembangan patogen,” tegasnya.

