Medan, mediaperkebunan.id – Pemerintah menegaskan bahwa peningkatan produktivitas kelapa sawit nasional menjadi agenda strategis yang tidak bisa ditunda, terutama dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045. Ancaman penyakit khususnya Ganoderma yang dinilai berpotensi menggerus produktivitas dan daya saing Indonesia sebagai produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Hal tersebut disampaikan Ir. Baginda Siagian, M.Si, Direktorat Jenderal Perkebunan dalam paparannya pada 3rd International Symposium Ganoderma Indonesia (ISGANO) 2026 di Hotel Adimulia Medan.
Menurut Baginda, kebutuhan nasional terhadap produk turunan sawit terus meningkat. Untuk mendukung ketahanan energi dan industri hilir, Indonesia membutuhkan sekitar 30 juta ton biodiesel dan 11–14 juta ton oleokimia. Jika produktivitas sawit menurun akibat serangan penyakit, maka Indonesia berisiko harus mengurangi ekspor guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Produktivitas sawit nasional saat ini masih stagnan di bawah 4 ton CPO per hektar per tahun. Ini harus segera ditingkatkan, terutama di tengah tekanan penyakit seperti Ganoderma. Jika tidak, posisi Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia bisa terancam, mengingat Malaysia sudah berada di kisaran 4–5 ton CPO per hektar per tahun,” tegasnya.
Baginda menekankan pentingnya keseragaman data yang baku dan akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan pengendalian Ganoderma. Berdasarkan data yang ada, beberapa provinsi seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Riau tercatat sebagai wilayah dengan tingkat serangan Ganoderma yang tinggi, selain Sumatera Utara yang menjadi lokasi mayoritas temuan di perkebunan rakyat.
Sebagai bentuk keseriusan, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah strategis di antaranya melalui sistem SiPeReda OPT untuk pengamatan dan pelaporan organisme pengganggu tanaman, penerbitan buku panduan Ganoderma, serta memasukkan komponen pengendalian Ganoderma dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) kegiatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).
Program PSR seluas sekitar 443 ribu hektare diarahkan tidak hanya untuk peremajaan, tetapi juga sebagai instrumen utama peningkatan produktivitas. Dalam pelaksanaannya, pengecekan dini keberadaan Ganoderma dan penggunaan bibit unggul bersertifikat menjadi perhatian utama.
“PSR tidak cukup hanya mengganti tanaman tua. Pengendalian Ganoderma dan penggunaan bibit unggul harus menjadi satu paket agar produktivitas benar-benar meningkat,” ujar Baginda.
Baginda menegaskan bahwa upaya menghadapi Ganoderma harus dipersiapkan sejak sekarang. Ia menyebut perang melawan Ganoderma sebagai langkah wajib.
“Siapa pun yang menginisiasi, perang terhadap Ganoderma harus dimulai sekarang. Dengan luas perkebunan sawit Indonesia sekitar 17 juta hektare, pemerintah berkomitmen menjaga agar sawit terus berkelanjutan sampai Indonesia Emas 2045 melalui kolaborasi semua pihak untuk mencari solusi dan menyelesaikan masalah secara bersama-sama,” pungkasnya.

