Medan, mediaperkebunan.id – Penyakit busuk pangkal batang akibat Ganoderma boninense kini menjadi ancaman serius dan berskala nasional bagi keberlanjutan industri kelapa sawit Indonesia. Diperkirakan sekitar 4,9 juta hektar perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah terinfeksi Ganoderma dengan sebaran luas di berbagai pulau utama sentra produksi sawit.
Hal tersebut disampaikan Ir. Indra Syahputra, M.P., Ketua Konsorsium Ganoderma Indonesia sekaligus Kepala Socfindo Seed Production & Laboratories (SSPL) PT Socfin Indonesia, dalam pemaparannya pada 3rd International Symposium on Ganoderma Indonesia (ISGANO) 2026 di Hotel Adimulia Medan.
“Ganoderma bukan lagi masalah lokal, tetapi darurat nasional. Serangannya sangat masif dan terus meningkat sehingga solusi harus dicari secara bersama dan berbasis data yang akurat dan pendekatan yang komprehensif,” tegas Indra.
Indra menjelaskan bahwa Ganoderma pertama kali dilaporkan menyerang kelapa sawit di Kongo pada tahun 1915, kemudian teridentifikasi di Indonesia sejak 1953. Dari berbagai spesies yang ada, Ganoderma boninense dikenal sebagai patogen paling berbahaya karena kemampuannya bertahan lama di dalam tanah dan menginfeksi lintas generasi tanam.
Dampak ekonominya sangat signifikan. Di Malaysia, kerugian akibat Ganoderma diperkirakan mencapai USD 500 juta per tahun, sementara tanpa mitigasi yang serius, hingga 41% lahan sawit global terancam pada 2050. Penurunan populasi tanaman, kematian pokok, dan hilangnya aset biologis membuat kebun tidak lagi layak secara ekonomi dan harus diremajakan lebih dini.
“Ganoderma bahkan menyerang tanaman muda hasil replanting. Jika tidak dikendalikan, produktivitas sawit bisa terus menurun dan dalam skenario terburuk, sawit terancam punah pada 2050,” ujarnya.
Menurut Indra, kunci pengendalian Ganoderma terletak pada pendekatan terpadu mulai dari deteksi dini, sanitasi sumber inokulum, pengelolaan lahan saat replanting, hingga penerapan praktik budidaya terbaik (best management practices).
Salah satu strategi paling menjanjikan adalah penggunaan tanaman kelapa sawit toleran atau moderat tahan Ganoderma. Setiap varietas memiliki respons ketahanan yang berbeda sehingga diperlukan proses screening dini (early screening test) di pembibitan untuk menyeleksi material tanam yang memiliki ketahanan lebih baik.
“Tanaman yang mampu bertahan bukan berarti bebas Ganoderma, tetapi serangannya lebih rendah dan lebih lambat. Inilah yang memberi peluang bagi kebun untuk tetap produktif lebih lama,” jelasnya.
Saat ini, tercatat tujuh perusahaan benih telah memproduksi bibit kelapa sawit moderat tahan Ganoderma dengan total kapasitas sekitar 17 juta bibit dari 10 varietas. Ke depan, strategi difokuskan pada peningkatan kapasitas produksi bibit sekaligus peningkatan level ketahanannya melalui pendekatan genetik termasuk pemanfaatan DNA marker dan metode seleksi berbasis genetik.
Indra juga menekankan pentingnya membangun Ganoderma database nasional melalui platform ISGANO agar tersedia satu kesatuan data yang seragam, mudah diakses, dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan serta perumusan kebijakan pengendalian.
“Tanpa data yang sama dan terintegrasi, kita akan sulit bergerak cepat. Database Ganoderma akan mempercepat penyusunan solusi, baik di level kebijakan, industri, maupun petani,” ujarnya.
Selain pendekatan teknologi dan riset, peningkatan kesadaran dan peningkatan pengetahuan kepada pekebun rakyat dan petani mandiri menjadi agenda penting. Penyuluhan, pelatihan, serta penyediaan panduan praktis pengelolaan Ganoderma dinilai krusial untuk menekan kehilangan produksi dan menjaga keberlanjutan sawit nasional.
“Perang melawan Ganoderma hanya akan efektif jika kita menggabungkan bibit tahan, praktik pengelolaan kebun yang baik, data yang solid, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Indra.

