Sumatera Selatan, mediaperkebunan.id – Indonesian Planters Society (IPS) menggelar kegiatan field trip ke Kebun Surya Adi milik PT Sampoerna Agro sebagai rangkaian dari acara Pertemuan Teknis Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit bertajuk “Kiat Sukses Meningkatkan Produktivitas Sawit”. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran langsung bagi para planters untuk memahami praktik terbaik peningkatan produktivitas sawit mulai dari replanting hingga produksi benih unggul.
Fahmi Wendra Setiostono, Research and Development PT Sampoerna Agro. Ia menyampaikan bahwa Kebun Surya Adi merupakan kebun riset yang telah dirintis sejak tahun 1990-an dan menjadi pusat pengembangan berbagai inovasi sawit.
“Suatu kehormatan bagi kami dapat menerima Bapak dan Ibu sekalian di Kebun Surya Adi. Kebun ini merupakan kebun riset dengan empat departemen utama yakni seed production, breeding, agronomy research, dan field quality assurance. Tugas kami mengawal benih unggul khususnya DxP Sriwijaya agar mampu memberikan produksi yang optimal di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa varietas yang dikembangkan di kebun ini telah menunjukkan performa yang baik, baik di perkebunan swasta maupun perkebunan rakyat. Melalui field trip ini, peserta diharapkan aktif menggali informasi langsung dari lapangan.
Ketua Umum IPS, Ir. Jamalul, sangat mengapresiasi sambutan dan keterbukaan PT Sampoerna Agro dalam berbagi pengetahuan kepada para planters. “Kami mengucapkan terima kasih yang luar biasa atas sambutan yang diberikan. Ini sangat unexpected bagi kami. Field trip ini akan mengunjungi beberapa lokasi penting dan kami berharap peserta dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Mari kita nikmati dan serap ilmu dari lapangan,” katanya.
Di lokasi tanaman menghasilkan, peserta mendapatkan penjelasan mengenai berbagai sistem replanting yang diterapkan di Kebun Surya Adi, mulai dari chipping, burial, bera, COCT, hingga CECT double ridge. Manager Estate PT Sampoerna Agro menjelaskan bahwa pada blok 103 dengan populasi 132 pokok per hektar ditanam DxP toleran 100 persen virescens.
“Hingga November, produktivitas mencapai 12,4 ton per hektar padahal budget awal hanya 8 ton. Estimasi hingga akhir tahun bisa mencapai 14 ton per hektar. Ini pencapaian yang sangat baik menurut kami,” jelasnya.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke seed garden, tempat peserta mempelajari alur kebun benih. Hafiz Ritonga, staf seed garden memaparkan bahwa produksi benih melibatkan empat unit kerja terpisah mulai dari isolasi, polinasi, panen, hingga pengelolaan pokok jantan, dengan pengawasan quality control yang independen.
Ia menjelaskan, proses produksi benih terdiri dari tiga tahapan utama yakni seed garden, seed preparation, dan seed processing unit yang keseluruhannya memakan waktu sekitar 12 bulan. “Jadi seluruh proses ini membutuhkan sekitar 12 bulan. Seed garden sebanyak 6 bulan, seed preparation dan seed processing unit masing masing sebanyak 3 bulan,“ terangnya.

Selanjutnya peserta diajak ke seed preparation untuk melihat langsung proses pengolahan tandan benih menjadi benih siap olah. Dio, perwakilan unit seed preparation menjelaskan bahwa proses ini berlangsung dengan sepuluh tahapan mulai dari penerimaan tandan hingga pengiriman benih.
“Saat ini kita sedang berada di seed preparation. Alur seed preparation ini ada 10 tahapan mulai dari penerimaan tanda, pencacahan & brondol, pemisahan daging buang, pembersihan serabut, perendaman fungisida, pengeringan benih, sortasi benih, penandaan benih, penyimpanan benih, dan pengiriman benih,” ujarnya.
Sebagai penutup, Parluhutan Sitohang selaku COO PT Sampoerna Agro menyampaikan apresiasinya atas antusiasme peserta field trip. Ia menegaskan bahwa benih unggul harus diimbangi dengan perawatan kebun yang baik agar produktivitas dapat terjaga secara berkelanjutan.
“Banyak testimoni menyebutkan DxP Sriwijaya disukai karena produktivitasnya tinggi dan sudah digunakan di seluruh wilayah Indonesia bahkan hingga Papua. Namun benih unggul harus dirawat dengan baik, dipupuk dengan benar agar hasilnya stabil. Melalui IPS field trip ini, kami ingin planters memahami bagaimana proses menghasilkan benih yang baik dan bagaimana informasi ini dapat dibagikan kepada sejawat di sekitarnya,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini dapat menambah wawasan peserta dan mendorong semangat kolaborasi antar planters. “Ayo bersama IPS kita tingkatkan terus produktivitas sawit. Kegiatan seperti ini penting agar semangat planters, pekebun, dan petani tetap hidup,” tutupnya.

