Jakarta, mediaperkebunan.id — Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) meluncurkan Outlook Sawit Q2 2026 yang menyoroti bahwa industri kelapa sawit Indonesia pada triwulan kedua tahun 2026 berada dalam fase penyesuaian yang semakin kompleks. Salah satu temuan utama dalam outlook ini adalah proyeksi penguatan harga CPO pada Q2 2026, yang terutama didorong oleh kenaikan harga energi global di tengah meningkatnya eskalasi perang yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat-Israel.
Dalam Outlook ini, harga CPO global diproyeksikan naik dari sekitar USD 1.165 per ton pada Maret 2026 menjadi sekitar USD 1.440 per ton pada April 2026, lalu meningkat lagi menjadi sekitar USD 1.701 per ton pada Mei 2026, dan diperkirakan mencapai sekitar USD 1.783 per ton pada Juni 2026.
IPOSS menilai bahwa penguatan tersebut bukan semata-mata mencerminkan gejolak geopolitik secara langsung, melainkan juga menunjukkan semakin kuatnya hubungan antara pasar minyak sawit dan pasar energi global. Ketika harga minyak mentah meningkat, biodiesel menjadi relatif lebih kompetitif dibandingkan dengan bahan bakar fosil, sementara biaya logistik, distribusi, dan premi risiko global juga ikut naik. Dalam situasi seperti ini, CPO semakin dipersepsikan bukan hanya sebagai komoditas pangan dan industri, tetapi juga sebagai komoditas yang memiliki fungsi strategis dalam sistem energi.
Tekanan dari pasar global tersebut juga diproyeksikan akan ditransmisikan ke dalam negeri. Harga CPO domestik pada Q2 2026 diperkirakan ikut menguat, meskipun pembentukannya tidak hanya mengikuti kenaikan harga internasional, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur kebijakan domestik seperti Harga Referensi, Pungutan Ekspor, dan Bea Keluar.
Dalam outlook ini, harga CPO domestik tercatat sekitar Rp15.065 per kilogram pada Maret 2026, lalu diproyeksikan naik menjadi sekitar Rp18.776 per kilogram pada April 2026. Pada versi draf sebelumnya juga terlihat tren penguatan lanjutan hingga Mei–Juni, yang menegaskan bahwa tekanan harga global berpotensi memberi efek nyata pada pasar domestik.
Di sisi lain, Outlook Sawit Q2 2026 juga menunjukkan bahwa penguatan harga terjadi ketika kondisi pasar domestik tidak sepenuhnya longgar. Produksi nasional CPO dan CPKO hingga akhir Q2 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 23,7 juta ton, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 24,0 juta ton.
Sementara itu, ekspor produk sawit nasional pada Q2 2026 diperkirakan sekitar 6,70 juta ton, lebih rendah dibandingkan 7,22 juta ton pada Q2 2025. Gambaran ini menunjukkan bahwa harga yang menguat tidak berdiri sendiri, tetapi terbentuk dalam konteks ruang pasok yang cenderung lebih terbatas dan pasar yang lebih sensitif terhadap perubahan eksternal.
Dalam dokumen ini, IPOSS juga menekankan bahwa kondisi Q2 2026 perlu dibaca secara terintegrasi. Dari sisi iklim, Indonesia sedang bergerak dari fase basah menuju risiko musim kering yang lebih dini di sejumlah sentra produksi. Dari sisi domestik, konsumsi biodiesel tetap menjadi penopang utama pasar.
Sementara dari sisi global, eskalasi perang yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat-Israel dan tekanan energi memperkuat ketidakpastian harga dan logistik. Karena itu, arah pasar sawit pada Q2 2026 tidak cukup dibaca hanya dari angka produksi atau ekspor, tetapi harus dilihat sebagai hasil interaksi antara supply–demand, iklim, energi, kebijakan fiskal, dan dinamika geopolitik global.
IPOSS memandang bahwa situasi ini sekaligus menjadi pengingat penting bahwa ketahanan industri sawit Indonesia tidak cukup hanya ditopang oleh respons jangka pendek terhadap harga. Di tengah penguatan harga CPO, Indonesia tetap perlu menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik, kepentingan ekspor, stabilitas pasar dalam negeri, dan penguatan fondasi produksi jangka menengah.
Dalam konteks tersebut, isu struktural seperti produktivitas kebun rakyat dan percepatan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) tetap menjadi faktor kunci untuk menjaga keberlanjutan pasokan nasional di tengah permintaan yang terus meningkat.
Melalui Outlook Sawit Q2 2026, IPOSS berharap dokumen ini dapat menjadi rujukan strategis bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, media, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membaca arah perkembangan industri sawit Indonesia. Outlook ini disusun untuk membantu memahami bahwa dinamika harga pada triwulan kedua tahun 2026 bukan sekadar gejala pasar sesaat, melainkan bagian dari perubahan yang lebih luas dalam hubungan antara sawit, energi, perdagangan, dan geopolitik global.

