Jakarta, mediaperkebunan.id – Pasar lada dunia saat ini sedang berada dalam kondisi yang tidak sepenuhnya stabil. Pasokan lada dari berbagai negara penghasil utama berkurang sementara permintaan tetap berjalan. Salah satu penyebab utamanya adalah cuaca yang tidak menentu ditambah dengan berkurangnya lahan tanam lada sejak beberapa tahun lalu ketika harga lada sempat jatuh dan kurang menarik bagi petani.
Akibat kondisi tersebut, produksi lada global pada 2025 mengalami penurunan. Situasi ini membuat harga lada berpeluang menguat, meskipun pasar masih bergerak dengan sangat hati-hati. Untuk tahun 2026, pemulihan produksi memang diperkirakan terjadi namun hasilnya sangat bergantung pada kondisi cuaca yang kini semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim.
Menurut data International Pepper Community (IPC), produksi lada dunia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 530 ribu ton. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2025, tetapi masih lebih rendah dibandingkan produksi pada 2024. Jika digabungkan dengan stok yang masih tersedia, total pasokan lada dunia yang bisa dikonsumsi pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 735 ribu ton.
Beberapa negara produsen utama seperti India dan Indonesia masih memegang peran penting. Produksi lada Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 58 ribu ton, didukung oleh curah hujan yang relatif baik. Sementara itu, produksi lada India diperkirakan sekitar 74 ribu ton. Meski demikian, produksi India terus menurun dari tahun ke tahun.
Dalam beberapa tahun terakhir, produksi lada India memang mengalami penurunan cukup tajam. Dari sekitar 126 ribu ton pada 2024, turun menjadi 85 ribu ton pada 2025, dan diperkirakan kembali turun pada 2026. Meski produksi menurun, India tidak berencana meningkatkan impor lada karena permintaan di dalam negeri cenderung stagnan. Di sisi lain, ekspor lada India diperkirakan masih berjalan stabil.
IPC juga mengingatkan adanya potensi gangguan panen pada 2026 akibat fenomena La Nina, yang bisa membawa curah hujan berlebihan di sejumlah wilayah. Namun, permintaan lada diperkirakan meningkat pada momen tertentu seperti menjelang Tahun Baru Imlek dan Festival Musim Semi di China. Permintaan musiman ini dinilai dapat membantu menahan harga lada agar tidak turun terlalu dalam.
Secara umum, pasar lada dunia saat ini sedang menuju kondisi yang lebih seimbang antara pasokan dan permintaan. Meski begitu, tantangan masih cukup besar. Negara-negara produsen diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan kebun, berinvestasi secara berkelanjutan, serta lebih siap menghadapi risiko cuaca dan fluktuasi harga.
Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia juga menunjukkan peran penting dalam industri lada. Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Datuk Seri Dr Noraini Ahmad menyebutkan bahwa produksi lada Malaysia diperkirakan mencapai sekitar 32 ribu ton hingga akhir tahun ini. Lada menjadi salah satu komoditas pertanian penting yang ikut mendorong perekonomian negara tersebut.
Meski demikian, industri lada Malaysia juga menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya adalah naik turunnya harga di pasar dunia, persaingan dengan negara lain, tuntutan standar keamanan pangan yang semakin ketat, serta dampak perubahan iklim. Walaupun begitu, pemerintah menilai industri lada Malaysia masih mampu menjaga pertumbuhan yang positif.
Data menunjukkan bahwa sejak 2021 hingga Oktober 2025, Malaysia telah mengekspor sekitar 29.624 ton lada dengan nilai lebih dari 824 juta ringgit Malaysia. Kontribusi lada terhadap perekonomian juga cukup besar dengan nilai sekitar 10,71 miliar ringgit terhadap produk domestik bruto (PDB) dalam periode 2021 hingga September 2025.
Selain digunakan sebagai bumbu dapur dan bahan makanan olahan, lada juga dimanfaatkan dalam industri kosmetik dan farmasi. Sekitar 30 hingga 40 persen produksi lada Malaysia dikonsumsi di dalam negeri. Hingga November 2025, tercatat lebih dari 39 ribu rumah tangga petani lada yang mengelola lahan seluas lebih dari 8.200 hektare.

