Jakarta, mediaperkebunan.id – Belakangan ini pemerintah Indonesia menggencarkan program pengembangan kelapa (coconut) untuk ketahanan dan swasembada pangan dan energi, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap perkebunan kelapa sawit.
Dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang membentuk Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada tahun 2025 pun kemudian mengubah nomenklatur lembaga pembiayaan sawit tersebut melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan.
Dengan demikian, sejak Perpres itu keluar maka BPDPKS resmi menjadi BPDP dana yang diurus tidak hanya perkebunan kelapa sawit, melainkan juga kelapa dan kakao.
Sejak itu pemerintah bertekad bertekad mengembangkan perkebunan kelapa untuk ketahanan energi, pangan, dan kesejahteraan petani. Cara yang dipilih oleh pemerintah adalah melalui intensifikasi lahan dan peremajaan perkebunan kelapa.
Namun menurut Setiari Marwanto sebagai Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRBun) pada Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), langkah di atas tidaklah cukup.
“Pengembangan perkebunan kelapa tidak cukup hanya dengan mengandalkan intensifikasi lahan dan peremajaan kebun,” kata Setiari Marwanto, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi BRIN, Rabu (2/7/2025).
Hal itu dikatakan Setiari Marwanto alam acara penandatanganan kerjasama strategis antara BRIN dengan International Coconut Community (ICC) yang berlangsung di Gedung BNC BRIN Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno, Cibinong, beberapa hari yang lalu.
Kolaborasi dan kerjasama strategis kedua belah pihak tersebut dilakukan dengan menggunakan pendekatan bioteknologi, termasuk teknik peningkatan kesuburan, dalam hal ini tanaman kelapa, atau teknik in vitro.
Selanjutnya dilakukan kajian metabolomik dengan tujuan untuk melakukan karakterisasi dan kuantifikasi secara menyeluruh terkait metabolit dalam sistem biologis sel di dalam kelapa, dan analisis stabilitas genetik.
Menurut Setiari Marwanto, pengembangan perkebunan kelapa tetap memerlukan dukungan teknologi, terutama dalam penyediaan benih unggul yang berkelanjutan.
“Tantangan utama dalam pengembangan kelapa terletak pada keterbatasan benih unggul. Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong dua pendekatan utama,” kata Setiari Marwanto lagi.
Terutama, sambungnya, melalui intensifikasi kebun baru dan peremajaan tanaman kelapa yang rusak. Dukungan teknologi dari para periset di BRIN juga sangat penting untuk merealisasikan penyediaan benih unggul yang berkelanjutan.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya pembangunan pertanian secara umum. Dirinya mengutip pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang menyatakan bahwa stok pangan nasional saat ini telah mencapai 4 juta ton.
Namun, menurutnya, di masa depan, tantangan keberlanjutan pasokan untuk komoditas perkebunan tetap perlu diantisipasi melalui penguatan enam komoditas strategis, termasuk kelapa, kopi, kakao, lada, dan bawang.
Dia menjelaskan, BRIN dan ICC juga mengembangkan teknologi kultur jaringan untuk mempercepat perbanyakan vegetatif tanaman unggul secara massal, dengan tetap mempertahankan sifat genetiknya.
Penelitian turut mencakup identifikasi senyawa fitohormon alami seperti auksin dan sitokinin dalam air kelapa, untuk mendukung pertumbuhan tanaman, serta analisis keragaman genetik guna memastikan kestabilan sifat unggul.
Selain memperkuat riset, kolaborasi ini juga menjadi bagian dari langkah strategis membangun jejaring kerja sama internasional di sektor kelapa.
“Dalam waktu dekat, BRIN dan ICC akan menyelenggarakan kongres sebagai wadah penguatan kolaborasi global dan pertukaran pengetahuan,” tegas Setiari Marwanto selaku Kepala PriBun ORPP BRIN.

