Bandung, mediaperkebunan.id – Di tengah gencarnya upaya pengendalian penyakit Basal Stem Rot (BSR) atau busuk pangkal batang pada kelapa sawit, sebuah langkah revolusioner datang dari PT Pascal Biotech Indonesia. Perusahaan ini hadir dengan solusi berbasis mikroba yang menandai babak baru dalam perlindungan tanaman sawit secara hayati dan berkelanjutan.
Dalam ajang Medbun Awards 2025, PT Pascal Biotech Indonesia diganjar penghargaan sebagai Inisiator Teknologi Pengendalian Ganoderma Menggunakan Bakteri, atas kontribusinya dalam pengembangan inovasi berbasis bioteknologi untuk pengendalian penyakit Basal Stem Rot (BSR) pada tanaman kelapa sawit.
Sejak lama, penyakit BSR yang disebabkan oleh Ganoderma boninense telah menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan produksi sawit nasional. Penyakit ini menyerang pangkal batang dan menyebabkan kematian dini tanaman sehingga berdampak langsung pada produktivitas kebun.
Melihat urgensi persoalan ini, PT Pascal Biotech Indonesia hadir dengan pendekatan inovatif menggunakan bakteri Streptomyces GanoSA1 yang diformulasikan dalam produk unggulan mereka yakni Actino Plus. Produk ini bekerja sebagai agen pengendalian hayati (Biological Control Agent/BCA) yang berfungsi secara preventif. Bakteri GanoSA1 diketahui mampu menghambat perkembangan Ganoderma di sekitar zona akar dan menjaga tanaman tetap sehat sejak awal pertumbuhannya.
“Terima kasih kepada Media Perkebunan. Penghargaan ini menjadi pemicu bagi Pascal untuk terus melahirkan inovasi-inovasi terbaru,” ujar Miftachul Anwar, Direktur Utama PT Pascal Biotech Indonesia, dalam sambutannya.
Miftachul menjelaskan bahwa Streptomyces GanoSA1 yang digunakan dalam produk Actino Plus memiliki keunikan dibandingkan metode pengendalian lain. “Bakteri ini kami gunakan sebagai bentuk pengendalian preventif. Sedangkan untuk pengendalian kuratif, kami sedang mengembangkan varian Streptomyces lain yang mampu masuk ke dalam jaringan tanaman untuk mengatasi infeksi dari dalam,” paparnya.
Penghargaan ini mencerminkan komitmen kuat Pascal Biotech dalam menjawab persoalan krusial di industri sawit yakni penyakit Ganoderma yang selama ini menjadi momok besar bagi petani dan perusahaan perkebunan. Inovasi ini tidak hanya memperkenalkan pendekatan baru dalam pengendalian penyakit, tetapi juga memperkuat prinsip pertanian berkelanjutan melalui penggunaan mikroba yang ramah lingkungan.

