Stabat, Mediaperkebunan.id – Sungguh panjang perjalanan hidup Sutiyem (52),sebagai petani kelapa sawit swadaya yang berkelanjutan asal Dusun Paya Lebar, Kelurahan Alur Dua, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Semua itu, seperti dikutip Mediaperkebunan.id dari laman resmi Sinar Mas Agribusiness and Food, Rabu (2/4/2025), diawali dari jauh nun di masa silam, tepatnya di era kepemimpinan Presiden Soeharto.Saat itu perempuan kelahiran 1972 tersebut merupakan bagian dari salah satu keluarga peserta transmigran dari pulau Jawa dan kemudian bermukim di Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat.
Sang ayah, seorang petani yang menanam padi, memperkenalkan beliau pada pertanian dan mewariskan keterampilan serta tradisi bercocok tanam yang nantinya membentuk perjalanan Sutiyem. Saat menginjak remaja, keluarganya beralih dari bertani padi ke karet demi peluang ekonomi yang lebih baik.
Sutiyem remaja dengan cepat beradaptasi, dan menguasai teknik menyadap pohon karet serta mengumpulkan lateks. Dari sinilah Sutiyem belajar betapa pentingnya kerja keras dan menjaga kelestarian tanah.
Ketika harga karet anjlok pada tahun 2008, Sutiyem menghadapi pilihan sulit. Bersama sang suami, Sutiyem memutuskan untuk mengganti tanaman karet menjadi kelapa sawit. Ini terhitung pilihan yang cukup nekat karena saat itu Sutiyem dan suami tidak memiliki banyak pengetahuan tentang tanaman itu.
Dengan bertanya kepada petani sekitar, mereka perlahan membangun pemahaman dan keahlian dalam bertani sawit. Keputusan ini akhirnya membawa hasil yang positif seiring dengan perkembangan usaha mereka.
Bertahun-tahun kemudian perjalanan bertani Sutiyem bersinggungan dengan program Sawit Terampil, sebuah inisiatif peningkatan kapasitas yang dilaksanakan Sinar Mas Agribusiness and Food. Sutiyem kemudian masuk menjadi anggota Koperasi Jasa Sawit Lepan Jaya (KJSLJ), yang beranggotakan 250 petani sawit swadaya dengan luas lahan lebih dari 300 hektar (Ha).
Sutiyem menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas yang mengubah wajah industri minyak kelapa sawit. Pada tahun 2024, KJSLJ berhasil meraih sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang menegaskan komitmen mereka terhadap praktik pertanian berkelanjutan.
Kisah Sutiyem membuka lapisan kisah revolusi senyap, yang menunjukan petani perempuan mendobrak batasan dan menata kembali industri yang telah lama didominasi kaum lelaki. Melalui program Sawit Terampil yang diluncurkan Sinar Mas Agribusiness and Food, Sutiyem belajar teknik bertani berkelanjutan, seperti pemupukan yang efisien dan pengelolaan kebun yang lebih baik.
Selain itu, Sutiyem juga mendapatkan dukungan penting seperti layanan pemetaan lahan yang membantu beliau mendapatkan dokumentasi penting untuk kelangsungan usaha, termasuk surat tanda daftar budidaya (STDB).
“Setelah bergabung dengan program Sawit Terampil ini, akhirnya saya mengerti apa arti keberlanjutan, tidak hanya untuk lahan, tetapi juga untuk mata pencaharian kami,” jelas Sutiyem.
Sutiyem mengakui bahwa perubahan-perubahan kecil ini mengubah cara mereka di KJSLJ dalam berkebun kelapa sawit. Pada saat yang sama, kata dia, yang patut digarisbawahi bukan hanya keterampilan praktis yang dipelajari, seperti metode pemupukan yang efisien atau pengelolaan hama berkelanjutan.
“Tetapi juga pemahaman bahwa petani lebih kuat saat bekerja sama. Tidak seorang pun yang ditinggalkan,” tegas Sutiyem.

