Bogor, mediaperkebunan.id – Sudah beberapa bulan terakhir pasar buah kelapa di berbagai daerah di Indonesia mengalami dinamika yang luar biasa: harga melonjak, eh stoknya pun malah langka.
Belum ada kebijakan yang ampuh dari pemerintah untuk mengatasi situasi tersebut. Situasi di atas pun menjadi perhatian dari Prof Amzul Rifin, seorang pakar dari Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) University.
Menurut Prof Amzul Rifin, fenomena ini dipicu oleh peningkatan permintaan ekspor, khususnya minyak kelapa. Kata dia, meski nilai ekspor minyak kelapa meningkat, kuantitas ekspornya justru mengalami penurunan, yang mencerminkan harga dunia yang semakin tinggi pada tahun 2025.
“Kelangkaan yang terjadi lebih disebabkan oleh meningkatnya permintaan luar negeri. Harga dunia yang naik membuat ekspor lebih menguntungkan dibandingkan menjual kelapa di pasar domestik,” ujar Prof Amzul Rifin.
Produksi kelapa Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 2,89 juta ton, dengan sebagian besar produksi atau mencapai 98 persen berasal dari petani rakyat.
“Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, kelapa Indonesia juga diekspor dalam bentuk bahan baku maupun olahan, terutama minyak kelapa,” ucap Prof Amzul Rifin.
Pada tahun 2022, ujarnya lagi, sekitar 67 persen ekspor kelapa Indonesia berupa minyak kelapa, baik setengah jadi maupun mentah. Dia melihat permintaan luar negeri yang terus meningkat mengakibatkan kelapa dalam negeri lebih banyak diolah menjadi minyak kelapa untuk ekspor, yang berujung pada kelangkaan pasokan kelapa di pasar domestik.
Untuk mengatasi masalah ini, Prof Amzul menerangkan, langkah strategis perlu diambil untuk meningkatkan ketahanan pasokan kelapa dan mengurangi fluktuasi harga.
“Peningkatan produktivitas dan perluasan area tanam menjadi dua solusi utama untuk meningkatkan produksi kelapa,” katanya.
Namun, lanjutnya, kelapa menghadapi persaingan dengan tanaman lain, terutama kelapa sawit, yang sering kali lebih menguntungkan bagi petani.Untuk menarik minat petani dalam menanam kelapa, Prof Amzul menyarankan peningkatan pendapatan petani, baik dari hasil kelapa maupun dari produk turunannya.
“Hal ini diharapkan dapat memastikan keberlanjutan produksi kelapa di Indonesia,” .Prof Amzul Rifin, seorang pakar dari Departemen Agribisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) University.

