Jakarta, mediaperkebunan.id – Teknologi pengolahan TBS menjadi CPO adalah teknologi yang padat modal. Banyak koperasi petani yang ingin punya pabrik CPO tetapi terbentur modal. Program Sarpras memungkinkan kelembagaan petani punya PKS tetapi ketentuan punya modal kerja 30% dari nilai pembangunan PKS menjadi kendala juga.
Padahal aspirasi pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten saat ini supaya pengolahan TBS jadi minyak bisa dilakukan sendiri oleh petani. Hal ini terungkap dari audensi Gubernur serta Bupati-Bupati sentra sawit Riau ke Kementerian Perindustrian.Aspirasi mereka adalah pentingnya pemberdayaan koperasi dan industri kecil dalam rantai pasok hilir sawit.
Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby mengusulkan supaya sebagian besar hasil produksi minyak sawit bisa dikelola oleh masyarakat lewat koperasi. Koperasi Merah Putih yang disiapkan oleh Kementerian Koperasi bisa digunakan untuk melakukan ini.Sentra-sentra produksi sawit di Riau banyak seperti Kuansing, kebun yang sangat luas tidak diimbangi dengan pengolahannya
Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika merespon hal ini dengan menyodorkan teknologi PKS tanpa steam yang cocok untuk mengolah TBS jadi minyak pada skala kecil, cocok untuk koperasi.
Menanggapi hal ini, Pemimpin Usaha Media Perkebunan/Sekjen P3PI Hendra J Purba menyatakan bagi pemda dan koperasi petani yang ingin tahu lebih banyak soal PKS tanpa steam ini bisa datang ke 3rd TPOMI 2025 (Technology and Talent Palm Oil Mill), Conference and Exhibition tanggal 8-10 Juli mendatang di Bandung.
“Pemprov Riau dan provinsi sentra sawit lainnya, juga kabupaten-kabupaten penghasil sawit, silakan datang ke Bandung kalau ingin mendalami pabrik tanpa steam ini. Akan ada Petrus Tjandra sebagai pemilik teknologi yang saat ini sedang memindahkan pabrik yang semula di Muaro Jambi ke lahan IPB University di Sentul. Informasi disampaikan dari tangan pertama sehingga jelas,” kata Hendra.
TPOMI lahir diawali keprihatinan karena meskipun industri sawit ini sudah 100 tahun lebih di Indonesia tetapi tidak banyak pembaruan teknologi untuk mengolah TBS jadi CPO. Ada perubahan sedikit-sedikit saja. Itulah spirit utama TPOMI yaitu membawa teknologi-teknologi baru pada pabrik kelapa sawit. Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit maka harus jadi pelopor juga untuk menjadi penghasil teknologi unggulan sehingga rendemen dari kebun bisa optimal di pabrik.

Dari beberapa kali berinterkasi dengan Petrus Tjandra, terakhir pada Menuju 3rd TPOMI yang dilaksanakan akhir April lalu di Medan menurut Hendra perubajan teknologi olah Tbs dari “wet-process” ke “ dry-process” (tanpa steam) perlu dijalankan agar a) Emisi GRK rendah; b) kandungan Phytonutrients didalam minyak tinggi; dan c) tidak terjadi pencemaran lingkungan dari Limbah Cair (No POME) Sterilisasi ke Pasteurisasi.
Teknologi SPPOPT akan mengubah signifikan image industri kelapa sawit nasional antara lain emisi karbon yang rendah (benefit nilai ekonomi karbon); minyak bernutrisi untuk masyarakat; ketersediaan bahan bakar terbarukan (bensin sawit) dan pemberdayaan pekebun melalui kepemilikan pabrik skala kecil.
“Untuk lebih jelasnya silakan bapak-ibu dari Pemprov, Pemkab dan Koperasi Pekebun untuk datang langsung ke acara kami. Pak Petrus dan teamnya di TPOMI siap bekerjasama dengan siapa saja yang ingin membagun pabrik ini,” katanya.

