Sumatera Selatan, mediaperkebunan.id – Indonesian Planters Society (IPS) menyelenggarakan Pertemuan Teknis Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit bertajuk “Kiat Sukses Meningkatkan Produktivitas Sawit” di Sumatera Selatan pada hari ini, Selasa (9/12). Acara ini menunjukkan komitmen besar Indonesian Planters Society (IPS) dalam mendorong kemajuan industri sawit nasional yang berkelanjutan.
Ketua Umum Indonesian Planters Society (IPS), Ir. Jamalul memaparkan bahwa produksi CPO Indonesia pada 2025 diperkirakan mencapai 46–47 juta ton atau menyumbang sekitar 58% dari total produksi global. Dengan produksi dunia sebesar 80,3 juta ton, Indonesia dan Malaysia menyumbang hingga 87 persen pasokan global.
“Indonesia sudah dikenal sebagai produsen CPO terbesar dunia. Oleh karena itu IPS secara konsisten mengadakan seminar dan pertemuan teknis agar keberlanjutan produksi CPO tetap terjaga,” ujar Jamalul.
Ir. Jamalul juga menyoroti pentingnya kelapa sawit sebagai penyumbang devisa negara. Menurutnya, berbagai regulasi global seperti RSPO maupun EU Deforestation Regulation (EUDR) perlu disikapi dengan bijak.
“Bagi saya, regulasi itu tidak perlu menjadi momok yang menghambat produktivitas sawit. Namun kita juga harus memahami bahwa aturan tersebut bisa menjadi strategi dagang. Karena itu Indonesia menghadirkan standardisasi sendiri melalui ISPO untuk memastikan industri sawit tetap berdaulat dan berdaya saing,” tegasnya.
IPS yang berdiri pada tahun 2018 di Jakarta ini hadir sebagai wadah untuk seluruh sumber daya manusia perkebunan tanaman keras, terutama kelapa sawit. Anggotanya mencakup karyawan kebun, mandor, asisten, manajer, general manager, CEO, hingga pemilik kebun. Melalui IPS, Jamalul berharap dapat menyelenggarakan berbagai diskusi yang dapat mendukung keberlanjutan industri sawit nasional.
“Tujuan IPS adalah agar semua anggota bisa saling bertukar pikiran dan mendapatkan edukasi. IPS hadir untuk bisa saling bertukar pendapat serta mendapatkan pengetahuan yang baru,” jelas Jamalul.

Terkait produktivitas, Sekretaris Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, Dian Eka Putra dalam sambutannya menyampaikan bahwa produktivitas sawit rakyat di Sumatera Selatan masih tergolong rendah yakni hanya mencapai 3,4 juta ton per hektar per tahun.
Gap produktivitas ini menurutnya harus segera dijembatani melalui praktik budidaya yang lebih baik serta ketersediaan benih unggul secara berkelanjutan. Oleh karena itu, Dian sangat mengapresiasi terpilihnya Sumsel sebagai tuan rumah acara oleh IPS.
“Kami merasa tersanjung dipilihnya Sumsel sebagai tempat acara untuk kegiatan ini. Pertemuan teknis seperti ini sangat penting untuk memperkaya wawasan dan menjadi ruang berbagi solusi konkret,” terangnya.
Sumsel sendiri telah menjalankan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sejak 2017 dan telah membantu lebih dari 30.000 pekebun. Hasil survei menunjukkan bahwa ada kenaikan produktivitas setelah program PSR ini berjalan.
Meski demikian, peluang ekspor dan kebutuhan sawit domestik terus meningkat sehingga produktivitas harus digenjot. Dinas Perkebunan Sumsel berharap pertemuan teknis ini dapat memperkuat kapasitas pekebun dalam menghadapi kebutuhan sawit yang terus meningkat baik dalam negeri maupun ekspor.
“Industri sawit sangat dinamis. Pertemuan seperti ini sangat penting untuk menguatkan wawasan dan menemukan solusi praktis untuk meningkatkan produktivitas,” tutup Dian.
Dalam acara Pertemuan Teknis Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit ini, peserta juga akan mendapatkan materi di lapangan melalui field trip ke kebun Sampoerna untuk melihat langsung praktik pembibitan dan penanaman yang baik.

