19 November, 2020

Jakarta, Mediaperkebunan.id

Indonesia saat ini masih menjadi produsen biji kakao terbesar nomor 3 di dunia, belum bergeser menjadi nomor 6. “Jadi tidak benar kalau ada anggapan produksi kita turun drastis dan sekarang menjadi produsen nomor 6 dunia. Produksi kakao setiap tahun turun naik dan tahun 2018 memang turun tetapi tidak terlalu drastis seperti gambaran selama ini bahwa produksi kakao kita setiap tahun menurun dengan tajam,” kata Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono.
.
Dirjen Perkebunan selama ini bekerjasama dengan BPS melakukan sinkronisasi data produksi kakao. Data diambil dari lapangan dilaporkan dinas-dinas kabupaten yang langsung membina petani. Data itu dihimpun di dinas provinsi kemudian dilaporkan ke Ditjenbun.

“Kita mengacu pada data FAO saja. Kalau menggunakan data BPS dan Ditjenbun bisa saja nanti orang beranggapan lain seolah-olah datanya tidak benar meskipun data itu dikumpulkan dari lapangan. Data FAO jelas sekali menyatakan Indonesia produsen nomor 3 dunia,” katanya.

Data Produksi Kakao Dunia FAO tahun 2018 Indonesia 593.832 ton nomor tiga setelah Pantai Gading 1.963.949 ton di urutan pertama dan Ghana 947.632 ton diurutan kedua . Nigeria berada di urutan keempat 332.927 ton, Kamerun urutan kelima 307.867 ton dan Brazil urutan ke enam 239.387 ton.

Data FAO secara konsisten menunjukkan tahun 2014-2018 Indonesia selalu berada di urutan ke tiga dengan produksi tahun 2014 728.400 ton, 2015 593.331 ton, 2016 656.817 , 2017 659.778 dan 2018 593.832 ton.

Data BPS tahun 2018 menunjukkan 5 provinsi produsen kakao terbesar di Indonesia adalah Sulawesi Tengah 17,45%, Sulawesi Selatan 17,25%, Sulawesi Tenggara 16,17%, Sulawesi Barat 9,48%, Sumatera Barat 7,61%. Produksi biji kakao berasal dari perkebunan rakyat 97,29%, perusahaan perkebunan swasta 1,37% dan perusahaan perkebunan negara 1,34%.

(Visited 101 times, 1 visits today)