Bogor, mediaperkebunan.id – Tiga tahun terakhir ini Indonesia dan Belanda sepakat mengembangkan Proyek Sawit Berkelanjutan atau SustainPalm Project dengan tujuan untuk menciptakan solusi inovatif untuk praktik kelapa sawit yang berkelanjutan, baik di tingkat pengusaha maupun petani kelapa sawit.
Proyek tersebut melibatkan sejumlah kampus dari kedua negara, seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) University dan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dari Indonesia.
Kemudian, seperti keterangan resmi yang diperoleh Mediaperkebunan.id, Kamis (4/9/2025), Wageningen University and Research (WUR), serta Van Hall Larenstein University of Applied Sciences (VHL) dari Kerajaan Belanda.
Proyek ini juga mendapatkan dukungan dari tingkat kementerian, baik dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Belanda serta Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Republik Indonesia.
Rektor IPB University, Prof Arif Satria mengatakan riset kolaboratif dalam proyek ini penting untuk memastikan keberlanjutan industri sawit nasional.
“Salah satu fokus kami adalah memanfaatkan limbah sawit menjadi produk bernilai guna. From waste to wealth, sebagai bagian dari pendekatan circular economy,” ujar Rektor IPB University.
Prof. Arif Satria sendiri menyampaikan hal tersebut dalam acara “Pertemuan Tahunan Sawit Berkelanjutan atau SustainPalm Annual Meeting” yang digelar di IPB International Convention Center, di Bogor, Senin (2/9/2025).
Acara ini turut dihadiri oleh sejumlah tamu kehormatan, di antaranya Dida Gardera dari Kemenko Perekonomian, Prof Jan Verhagen, Program Manager SustainPalm, Joost van Uum dari Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, serta perwakilan dari beberapa mitra perguruan tinggi dalam negeri.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa SustainPalm Project telah membuktikan sawit berkelanjutan bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang bisa diwujudkan ketika berbagai pihak berjalan bersama.
“SustainPalm adalah perjalanan bersama yang membuktikan bahwa sektor sawit dapat menjadi penopang kehidupan sekaligus menjaga bumi bagi generasi mendatang,” ucap Pro. Arif Satria.
“Walaupun proyeknya berakhir, semangat kolaborasi dan nilai-nilai keberlanjutan harus terus hidup, menjadi fondasi kebijakan, memperkuat komunitas, dan mengakar dalam DNA industri sawit Indonesia,” tuturnya lebih lanjut.
Sebagai informasi tambahan, Proyek SustainPalm memfokuskan kegiatan pada peningkatan praktik kelapa sawit yang efisien dalam penggunaan lahan, ramah lingkungan.
Di samping itu, proyek ini juga inklusif bagi petani kecil, dengan mengedepankan pendekatan Communities of Practice (CoPs) dan LivingLabs (LLs) untuk merumuskan solusi bersama di tingkat lokal.
Salah satu inovasi yang telah dikembangkan melalui proyek ini adalah Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA), yang merupakan hasil riset IPB University.
Program SISKA menggabungkan budi daya perkebunan kelapa sawit dengan peternakan sapi untuk meningkatkan nilai tambah bagi petani.
Proyek ini juga mengembangkan sistem intercropping atau tumpang sari, yaitu penanaman lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan secara terencana.
Intercropping terbukti meningkatkan produktivitas, efisiensi penggunaan lahan, dan kesehatan tanah, serta membantu pengendalian hama secara alami.
Tanaman seperti pisang, kacang koro, dan kopi menjadi contoh tanaman yang ditanam berdampingan dengan kelapa sawit untuk menciptakan keuntungan ekologis dan ekonomis.
Melalui SustainPalm Project, hasil riset diharapkan tidak hanya berhenti pada kajian akademik, tetapi juga menjembatani dunia penelitian, kebijakan, dan praktik lapangan untuk menciptakan dampak nyata bagi keberlanjutan industri sawit Indonesia.

