Jakarta, mediaperkebunan.id – Kalau tahun ini iklim mendukung, dalam arti tidak ada perubahan iklim secara tiba-tiba menurut Ketua Gabungan Produsen Gula Indonesia (GAPGINDO), Syukur Iwantoro maka produksi gula PG-PG anggotanya meningkat antara 15-25%. Anggota GAPGINDO terdiri dari 6 perusahaan yaitu PT Rajawali I, PT Kebon Agung, PT Kebun Tebu Mas, PT Rejoso Manis Indo, PT Pratama Nusantara Sakti dan PT Muria Sumba Manis. Total ada 8 Pabrik Gula.
“Iklim adalah faktor yang menentukan dan harga tebu terutama di tingkat petani atau ketika tebu masuk gerbang PG. Dari aspek teknologi baik on farm (budidaya) maupun off farm (milling dan processing) sudah ada kemajuan. Animo petani untuk menanam dan merawat tebu rata-rata sudah meningkat secara signifikan,” kata Syukur.
Syukur juga sependapat dengan optimisme Dirjenbun dan PTPN bahwa tahun ini produksi gula nasional bisa mencapai rekor yaitu 2,8 juta ton. Hal ini bisa dicapai kalau rata-rata rendemen 9% sedang produktivitas tebu rata-rata 75 ton/ha dan cuaca medukung.
Syukur yang merupakan Wakil Direktur Utama PT Rejoso Manis Indo Blitar menyatakan dalam 2 tahun terakhir rendemen 9% di perusahaannya selalu tercapai dari target 10%. “Tahun ini InsyaAllah jika cuaca mendukung bisa diatas 9%,” katanya.
Tahun 2021 produksi gula anggota GAPGINDO, PT Rejoso Manis Indonesia mencapai 67.362 ton, 2022 92.078 ton, 2023 97.413 ton, 2024 100.201 ton. Produksi tahun 2024 didapat dari 1.113.419 ton. Sampai tahun 2024 PT RMI telah bermitra dengan 6.109 petani dengan luas lahan 75.714 yang tersebar di Kabupaten Blitar, Tulungagung sampai Probolinggo dengan tonase tebu disetor 5.315.583 ton dengan harga tebu rata-rata Rp781.660/ton.

