20 April, 2017

Saat ini negara luar gencar dalam menyuarakan produk-produk yang sustainable, untuk itu Indonesia selaku negara eksportir mau tidak mau harus mengikuti aturan tersebut. Adapun sustainable itu sendiri ada tiga syarat menurut IDH (the sustainable trade initiative atau inisiasi dagang hijau).

“Jadi menurut kita (IDH) ada tiga syarat untuk memenuhi kriteria dalam menuju sustainable,” kata Fitrian Ardiansyah, Direktur IDH kepada perkebunannews.com, di sela-sela peresmian kantor baru, wilayah Jakarta.

Pertama, menurut Ardiansyah produk tersebut harus berproduktivitas tinggi. Artinya dengan keterbatasan lahan yang ada saat ini maka jika ingin dikatakan sustainable harus bisa memaksimalkan lahan yang tersedia yaitu bisa menghasilkan produktivitas yang tinggi ditengah-tengah terbatasnya lahan.

Kedua, harus bisa memanfaatkan atau menjaga ekosistem yang berdampingan dengan wilayah dimana lahan budidaya tersebut dilakukan. Artinya jika lahan budidaya tersebut berdampingan atau berdekatan dengan wilayah hutan, atau aliran sungai, maka semaksimal mungkin untuk bisa menjaganya agar tidak tercemar.

“Diantaranya yaitu dengan meminimalisir atau tidak menggunakan produk-produk kimiawi yang bisa mencemari lingkungan sekitar. Dengan begitu maka alam disekitar tetap bisa terjaga,” harap Ardiansyah.

Terakhir, Ardiansyah mengatakan yaitu budidaya harus dilakukan dengan cara kemitraan, baik perusahaan dengan masyarakat sekitar atau lahan masyarakat dengan perusahaan setempat atau pabrik pengolahan dimana masyarakat bisa memasok hasil panennya. Dengan begitu maka masyarakat setempat bisa ikut merasakannya sehingga tidak ada lagi kesenjangan sosial.

“Jadi diharapkan dengan terciptanya produktivitas yang tinggi maka ikut mengangkat kesejahteraan petani dan itu yang dinamakan sustainable,” terang Ardiansyah.

Namun, Ardiansyah mengakui untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah. Sebab untuk mencapai hal tersebut harus ada komitmen antara perusahaan selaku pengolah hasil petani, petani atau masyarakat sekitar dan pemerintah.

Adapun untuk mencapai hal tersebut, salah satunya yaitu program kemitraan antara petani dengan perusahaan dan harus didukung oleh pemerintah baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah (Pemda). Selain kemitraan, program inti plasma juga bisa dijadikan salah satu cara untuk mengangkat masyarakat sekitar.

“Sehingga dalam hal ini petani tidak akan khawatir kehilangan pasar disaat panen dengan produktivitas tinggi,” himbau Ardiansyah.

Selain kemitraan ataupun inti plasma, Ardiansyah menyarankan penguatan kelembagaan petani juga menjadi salah satu hal penting untuk menuju sustainable. Sebab dengan melakukan penguatan kelembagaan petani maka posisi tawar petani mejadi lebih besar dan petani akan mudah dalam melakukan pengajuan kredit pembiayaan, guna tercipta good agricukture practices (GAP).

“Dengan begitu maka akan tercipta perkebunan yang sustainable, baik perkebunan perusahaan ataupun perkebunan milik petani mandiri,” pungkas Ardiansyah. YIN

(Visited 183 times, 1 visits today)