Jakarta, mediaperkebunan.id – Kelapa merupakan salah satu komoditas utama program hilirisasi perkebunan. Tahun 2025-2027 rencana pengembangan kelapa mencapai 221.890 ha. Luas areal kelapa tahun 2024 menurut buku statistik perkebunan 2024-206 3.290.755 ha dengan perkebunan rakyat mencapai 98% atau 3.248.506 ha.
Menurut Donald Siahaan, P3PI (Perkumpulan Praktisi Profesionalitas Perkebunan) / peneliti kelapa PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit), salah satu masalah utama kelapa adalah didominasi petani yang tersebar dibanyak tempat. Petani kelapa juga sebagian besar belum berorganisasi dengan baik.
Membuat petani kelapa menjadi pelaku yang berorganisasi dan punya posisi kuat bila bermitra dengan industri pengolahan menjadi topik penting yang akan dibahas pada ICCE (1st Indonesian Coconut Conference and Exposition 2026). ICCE akan dilaksanakan: exhibition tanggal 8-10 Juli 2026, Konferensi 10 Juli 2026, Field Trip 11 Juli 2026 di Adimulia Hotel, Medan.

Pada ICCE akan hadir berbagai stake holder dan berkolaborasi sesuai kompetensinya, misalnya pelaku usaha industri hilir dengan kelembagaan pekebun. Pemerintah berperan sebagai regulator misalnya dengan membuat harga penetapan kelapa seperti TBS pada sawit yang menyesuaikan dengan harga CPO pada bursa komoditi, kalau kelapa patokanya CNO. Harga yang tercipta diharapkan adil baik bagi industri pengolahan dan petani.
“Kerjasama dan penetapan harga akan menciptakan efektivitas dan optimalisasi harga. Kita tiru apa yang dilakukan industri sawit yang terbukti berhasil,” katanya.
Diantara peserta exhibition ICCE ada 2 perusahaan mesin-mesin industri pengolahan kelapa asal India. Menurut Donald, India punya penglaman cukup baik dalam kerjasama antara industri mesin, pengolahan kelapa dan petani. Indonesia bisa belajar.
Dari ICCE dengan adanya industri mesin juga bisa jadi solusi bagaimana memanfaatkan secara optimal biomassa yang dihasilkan kelapa. Sabut dan air kelapa masih banyak yang dibuang, industri hanya mengolah dagingnya. Sedang tempurung sudah banyak dimanfaatkan.
Melalui ICCE diharapkan ada alternatif bagaimana memanfaatkan material dari kelapa yang selama ini tidak dimanfaatan menjadi produk yang bernilai tambah tinggi, bahkan bisa melebihi nilai tambah dari pengolahan kelapa. Donald juga berhadap ada produk hulu seperti pupuk organik yang ikut serta untuk meningkatkan produktivitas kelapa.
PPKS sendiri pada awalnya merupakan pusat penelitian kelapa kemudian bergabung dengan pusat penelitian kelapa sawit dan lebih konsentrasi ke sawit. Sejak 2 tahun lalu sudah mulai meneliti kelapa. Saat ini ada 6 peneliti kelapa, salah satu yang sedang digarap adalah pembuatan Kebun Induk Terpilih.

