Jakarta, mediaperkebunan.id – Ada dua sisi kondisi kelapa yang berlawanan saat ini. Kondisi hulu kelapa yaitu perkebunan saat ini bisa dikatakan tidak berkembang. Tanaman semakin tua. Petani pemilik 99% luas perkebunan kelapa tidak melakukan peremajaan.
“Akibatnya produktivitas semakin menurun, luasannya juga sehingga total produksi nasional berkurang,” kata Donald Siahaan dari P3PI (Perkumpulan Praktisi Profesional Perkebunan Indonesia)/Peneliti Kelapa Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PT Riset Perkebunan Nusantara.
Sisi lain ada kebutuhan kelapa semakin meningkat, baik permintaan dalam negeri dan paling besar pasar ekspor. Bukan hanya China saja yang permintaannya naik tetapi Eropa juga karena peran kelapa yang sangat penting sebagai produk pangan.
“Dua sisi ini sekarang tidak seimbang. Terjadi kekurangan bahan baku untuk industri dalam negeri sehingga harga kelapa ikut naik,” katanya.
Pada sisi hulu produksi merosot, sedang ada kebutuhan besar di hlir dan ekspor. Karena itu P3PI bekerjasama dengan Media Perkebunan akan mengadakan 1st Indonesian Coconut Conference and Exposition 2026 pada yaitu exhibition tanggal 8-10 Juli 2026, Konferensi 10 Juli 2026, Field Trip 11 Juli 2026 di Adimulia Hotel, Medan.
“ICCE coba mewadahi pemangku kepentingan kelapa untuk urun rembuk apa yang perlu kita lakukan baik dari sisi peningkatan produktivitas dan memenuhi kebutuhan industri dan ekspor yang besar,” kata Donald.
Pada hulu untuk meningkatkan produktivitas perlu benih unggul yang sangat banyak, sampai puluhan juta butir, baik untuk peremajaan maupun untuk pengembangan, terutama rencana pemerintah 500.000 ha dari tahun 2025-2029. Masalahnya kebun induk sebagi penghasil benih unggul masih terbatas.
“Dalam ICCE pemangku kepentingan diharap duduk bersama mengantisipasi dan menggerakan bagaimana kebutuhan benih unggul terpenuhi dengan memperbanyak kebun induk,” katanya.
Masalah lainnya pada hulu adalah kelapa secara umum tidak dipupuk dan dirawat. Perlu ada intervensi dan inovasi mendorong petani berubah sehingga produktivitas naik. Perkebunan kelapa rakyat berubah menjadi lebih baik dari sisi genetik, fenotif dan lingkungan.
Dari sisi hilir, kelapa tersebar di banyak tempat seluruh Indonesia, sedang pabrk terpusat di satu tempat yang ada listriknya. Dengan kondisi ini perlu teknologi pasca panen yang tepat untuk memobilsasi hasil panen ke pabrik.
Pabrik juga harus dibuat lebih merata ke sentra-sentra produksi untuk menyerap kelapa petani. Dipetakan lokasi yang tepat untuk Riau, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Sulawesi Tengah dan lain-lain.
“Sulawesi Tengah sampai saat ini belum ada pabrik , sehingga kelapanya diolah ke provinsi lain di Sulawesi. Program pemerintah untuk membangun industri pengolahan di sentra produksi kelapa sudah tepat,” katanya.
Selanjutnya bagaimana menciptakan sistem seperti pada kelapa sawit. Setiap ekspor ada bea keluar yang dipungut dan dikembalikan untuk kemajuan industri kelapa. “Ini juga sangat menarik didiskusikan di ICCE,” kata Donald lagi.

