Jakarta, mediaperkebunan.id – Permintaan global produk kelapa saat ini sedang tinggi. Hal ini tidak lepas dari kesadaran kesehatan masyarakat dunia yang semakin meningkat, dan kelapa punya kelebihan dbanding produk sejenis dari komoditas lain. Jelfina C Alouw, Director General International Coconut Community didampingi Alit Pirmansah, Market and Statisctic Director ICC menyatakan hal ini kepada Media Perkebunan.
Permintaan produk tinggi sedang produksi kelapa turun karena ada El Nino. Produksi turun bukan hanya di Indonesia saja tetapi di semua produsen kelapa. Maka harga kelapa naik. Indonesia adalah satu-satunya produsen besar yang membebaskan ekspor kelapa bulat, sedang Filipina, Srilanka dan India melarang. Vietnam dan Malaysia membebaskan ekspor tetapi produksi mereka sedikit.
Hot Isu kelapa tahun ini adalah supply terbatas sehingga harga produk kelapa naik sampai 100%. Harga CNO naik luar biasa. Jadi pertanyaan adalah bagamana supply sustainablitu kelapa dengan produknya yang semakin beragam dan permintaan tinggi.Isu lainnya adalah dengan harga kelapa yang tinggi apakah dinikmati petani atau tidak.
Sekarang petani sangat menikmati harga kelapa yang tinggi tetapi kedepannya apakah akan seperti ini terus. Penyebab industri di Indonesia kekurangan bahan baku adalah turunnya produksi bukan ekspor kelapa bulat, yang hanya 5% dari total produksi.
Tahun ini volume ekspor produk kelapa Indonesia berkurang karena masalah bahan baku tetapi dari sisi nilai naik. Ekspor produk kelapa Indonesia didominasi oleh CNO dan RBD yang selanjutnya diolah jadi oleokimia. Saat ini permintaan industri untuk asam karpilat semakin besar. Indonesia juga sudah mulai mengekspor oleokimia dari kelapa untuk kebutuhan energi dan kosmetik.
Hal yang paling penting adalah peningkatan efisiensi supaya masih mampu bersaing dari sisi harga. Dari sisi efisiensi produksi di pabrik, industri di Indonesia tidak kalah. Kalau tidak efisien tidak mungkin bisa bersaingnya. Masalahnya industri di Indonesia stand alone, ketika investas harus bangun jalan sendiri, Pelabuhan sendiri dan lain-lain. Jadi penyebab utamanya daya saing agak tertinggal. Faktor seperti pajak, logistic, kemanan juga sangat berpengaruh.
Dari sisi hilir Indonesia tidak ketinggalan dari negara lain karena sifatnya demand driven dan pelakunya perusahaan swasta. Mereka punya R and D sendiri , kalau permintaan tinggi mereka pasti akan membuat produk itu. Jadi pemerintah tidak perlu masuk kesana. Sekarang bagaimana membuat bahan baku cukup untuk diolah oleh industri. Pemerintah fokus pada hal ini.
Dari sisi variasi produk hilir Indonesia tidak kalah. Tantanganya adalah hambatan perdagangan, Indonesia dengan USA masih 19%, sedang Malaysia bisa 0, Filipina 7%. Ini jadi tantangan besar, kalau ditambah pajak ekspor maka semakin tidak kompetitif. Comparative advantage Indonesia dan Filipina sama, sedang competitive advantage tertinggal tidak begitu jauh.
ICC sendiri perannya banyak sekali tetapi tidak banyak orang yang tahu. ICC sangao menaruh perhatian pada hambatan non tarif. Publikasi di jurnal yang bersifat negatif seperti minyak kelapa tidak baik untuk Kesehatan harus segera di counter. Kalau tidak maka terbentuk pandangan bahwa minyak kelapa tidak baik bagi Kesehatan.
ICC dengan tim scicentific health yang berisi pada ahli bukan saja dari negara-negara produsen kelapa tetapi negara konsumen kelapa aktif mengcounter isu ini. Setia pada publikasi negatif yang muncul dan tidak lmiah segera diredam. Jangan sampai konsumen global terpengaruh isu negatif ini.

