Garut, Mediaperkebunan.id – Ketua Himpunan Pengusaha Sabut Kelapa Indonesian (HIPSKI) Cepi Mangkubumi menyatakan potensi Indonesia untuk menghasilkan produk olahan sabut kelapa sangat besar sebab materialnya sangat melimpah, bahkan di beberapa sentra produksi kelapa masih menjadi limbah dan dibakar. Dunia saat ini minta produk-produk yang ramah lingkungan sehingga peluang ini harus dikelola dan dioptimalkan dengan baik.
Tetapi Industri Sabut Kelapa di Indonesia masih sulit untuk berkembang karena beberapa faktor diantarnya:
Industri Masih Didominasi Skala Kecil-Menengah (UKM)
- Sebagian besar pelaku usaha cocofiber/cocopeat adalah UKM yang masih menggunakan mesin penggerak berbahan bakar solar (berdampak pada cost produksi yang tinggi)
- Kapasitas produksi terbatas dan kualitas sering tidak stabil (rendemen rendah, kadar air tinggi, dll). Minimnya Industri Hilir di Dalam Negeri
- Sebagian besar produk sabut kelapa yang diekspor masih dalam bentuk mentah atau semi-olah.
- Produk turunan seperti: Coco board / particle board, mattras, briket, atau bahan otomotif masih jarang diproduksi secara massal di dalam negeri.
Kendala Infrastruktur & Logistik
- Banyak sentra kelapa berada di daerah (Sulawesi, Maluku, Tembilahan, Jambi) dengan akses logistik terbatas.
- Biaya angkut dari desa ke pabrik atau pelabuhan cukup tinggi. Belum Terbangun Ekosistem Terpadu
- Rantai pasok antara petani – pengepul – pabrik – eksportir belum efisien.
- Belum ada kawasan industri sabut kelapa terpadu yang besar dan terintegrasi seperti di India.
Sehingga diperlukan peran pemerintah dan intervensi kebijakan untuk membangun industri berbasis klaster yang melibatkan seluruh stakeholder. Selain beberapa faktor diatas, SDM menjadi salah satu faktor paling penting dalam Industri Sabut Kelapa, mengingat posisi kita dimarket global sulit bersiang dengan produk coir dari Vietnam, Srilangka dan India.
“Banyak dari teman-teman yang masih belum dapat membedakan kualitas cocofiber untuk industri rope dan industri sheet. Sabut kelapa memiliki karekteristis yang berbeda, sehingga apabila menggunakan mesin dan proses produksi yang tidak tepat maka produk yang dihasilkan akan sulit untuk terjaga kualitasnya,” kata Cepi.
India punya lembaga yang bernama Coir Board yang fokus pada pengembangan produk dan pasar semua produk yang berkaitan dengan sabut kelapa. Devisa yang dihasilkan dari sabut kelapa India kalau dirupiahkan mencapai hampir Rp8 triliun/tahun.
Industri sabut kelapa di India dan Srilanka berkembang dengan buyer dari luar negeri akhirnya bekerjasama dengan produsen setempat menjadi perusahaan skala besar. Dukungan pemerintah pada industri olahan sabut kelapa sangat kuat. Industri berkembang sabut kurang saat ini banyak pengusaha India dan Srilanka membuka pabrik di Indonesia.
Saat ini anggota HPSKI yang aktif ada 45 orang. HIPSKI juga terlibat aktif dalam penyusunan road map hilirisasi kelapa di Bappenas. Sekarang yang penting adalah bagaimana road map yang sudah disusun bersama dapat dijalankan, kalau tidak hanya jadi dokumen formalitas saja. Dalam road map sudah jelas produk-produk yang akan dikembangkan dari sabut kelapa apa saja, dan kementerian apa saja yang telibat mendukung program hilirisasi tersebut.
Seperti contoh, Kementerian Perindustrian perlu membuat peta industri sabut kelapa yang disesuaikan dengan kapasitas bahan baku. “Sering terjadi di Indonesia dalam industri apapun bila ada pabrik yang maju maka disebelahnya ada pabrik yang sama tanpa memperhatikan ketersediaan bahan baku. Akibatnya terjadi persaiangan tidak sehat terkait bahan baku,” katanya.
Pemerintah juga perlu membuat insentif khusus untuk transportasi agar perkembagan Industri Sabut kelapa tersebar merata diseluruh Indonesia, bukan hanya di daerah-dareah yang Industrinya sudah berkembang (Lampung, Jabar, Jawa Timur, Bali) karena dekat dengan pelabuhan. Sedang daerah-daerah penghasil kelapa lainnya seperti Sulawesi dan Maluku, Tembilahan yang bahan baku melimpah justru belum berkembang industri sabut kelapa. Secara keseluruhan Sabut Kelapa di Indonesia baru sekitar 10-15% yang sudah dimanfaatkan.

