Jakarta, mediaperkebunan.id – Setelah HIPKI (Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia) , sekarang HIPBAKI (Himpunan Pengusaha Briket Arang Kelapa Indonesia) minta supaya ekspor kelapa butir dari Indonesia di batasi. Penyebabnya saat ini 25 anggota HIPBAKI mengalami masalah kekurangan bahan baku.
Di tandatangani oleh Basuki, Ketua Umum dan Wahid Mahmud, Sekjen, HIPBAKI menyurati Menteri Perdagangan dengan tembusan kepada Presiden RI, Wakil Presiden RI, Menteri Koordinator Perekonomian dan Menteri Pertanian.
Kelangkaan bahan baku arang batok kelapa selalu di hadapi anggota HIPBAKI sepanjang masa, di mana salah satu penyebabnya adalah ekspor kelapa butir secara besar-besaran dan tidak terkendali. Karena itu usulan HIPBAKI adalah agar pemerintah melalui pihak-pihak terkait dapat mengeluarkan kebijakan untuk membatasi atau mengendalikan ekspor kelapa butir sehingga kebutuhan industri dalam negeri dapat terpenuhi serta dapat sejalan dengan program hilirisasi dari pemerintah.
Dari tahun ke tahun HIPBAKI telah melakukan audiensi dengan pihak pemerintah melalui Kementrian Pertanian, Bappenas, Kementrian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian, namun sampai dengan saat ini belum ada solusi yang signifikan terhadap permasalahan ini.
Saat ini HIPBAKI beranggotakan 25 perusahaan yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia dengan total nilai ekspor anggota HIPBAKI lebih kurang sebesar Rp. 2,15 Trilliun per tahun atau di perkirakan sebesar 23% dari total pelaku industri dan ekspor briket arang kelapa Indonesia dengan nilai lebih dari Rp. 9,4 Trilliun per tahun.
Total keseluruhan komoditas arang (charcoal) yang berbahan baku tempurung kelapa, kayu, sawdust, cangkang kemiri, cangkang sawit, maupun lainnya yang di ekspor dari Indonesia ke berbagai belahan penjuru dunia di perkirakan lebih dari 10 kali lipat yaitu sebesar Rp. 94 Trilliun per tahun.
Sebanyak +/- 5.000 orang terlibat langsung bekerja sebagai karyawan di perusahaan anggota HIPBAKI dengan berbagai latar belakang namun mayoritas hanya berlatar belakang pendidikan bawah dan tanpa keterampilan khusus, sehingga mereka merasa sangat terbantu dengan kehadiran industri ini terutama dalam mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang cukup bagi mereka.
Di perkirakan juga sebanyak +/- 2.000 orang yang terdiri dari petani kelapa, petani pembuat arang kelapa, pengepul, dan para pedagang sebagai pemasok bahan baku kepada sangat bergantung kepada industri briket arang kelapa ini, di mana industri ini dapat memberikan manfaat dan nilai tambah sebagai salah satu produk akhir turunan kelapa, belum termasuk para pihak lain yang juga seperti sektor transportasi, pemasok bahan penunjang, dan jumlah tanggungan setiap pihak yang terlibat yang tidak dapat di sebutkan satu persatu namun Hipbaki yakin jumlahnya lebih banyak dari yang perkirakan.
Total di perkirakan bahwa ada sebanyak +/-30.000 orang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam industri briket arang kelapa Indonesia, atau sekitar +/-300.000 orang yang menggantungkan hidupnya terhadap komoditas charcoal di Indonesia.

