Jakarta, mediaperkebunan – Program hilirisasi perkebunan yang menjadi salah satu janji kampanye Presiden Prabowo kini mulai berjalan. Setelah target swasembada pangan khususnya beras tercapai, fokus bergeser ke sektor perkebunan. Presiden memerintahkan Menteri Pertanian untuk mendorong hilirisasi, dimulai dari penyediaan bahan baku terutama pada komoditas yang masih bergantung impor.
Menurut Ebi Rulianti, Direktur Perbenihan Ditjen Perkebunan, menurut arahan Menteri Pertanian ada tujuh komoditas prioritas hilirisasi meliputi tebu, kakao, kelapa, kopi, jambu mete, lada, dan pala. “Prioritas pertama adalah tebu yaitu untuk mencapai swasembada gula konsumsi. Prioritas kedua adalah kakao. Prioritas ketiga adalah kelapa, sekarang ekspor sedang tinggi-tingginya. Prioritas keempat adalah kopi, berikutnya jambu mete, lada, dan pala,” jelas Ebi Rulianti.
Walaupun namanya hilirisasi, Ditjen Perkebunan menangani tahap hulu. Langkah yang dilakukan meliputi peremajaan, rehabilitasi, dan ekstensifikasi, yang semuanya membutuhkan benih dalam jumlah besar. Tahun ini, Direktorat Perbenihan Perkebunan mulai turun ke lapangan untuk menambah kebun sumber benih bagi tujuh komoditas tersebut, bekerja sama dengan BRIN, perguruan tinggi, Balai Proteksi dan Perbenihan Tanaman Perkebunan, serta Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian.
“Kita benar-benar berkoordinsi supaya bisa mendapatkan benih dengan cepat dan kualitasnya tetap terjaga,” ungkap Ebi. Tahun ini, seluruh benih yang ada di penangkar akan dibeli untuk mendukung target produksi, termasuk pembangunan Kebun Benih Datar (KBD) tebu untuk program bongkar ratoon 100.000 ha per tahun.
Program juga mencakup strategi percepatan produksi benih seperti penggunaan kultur jaringan pada tebu dari fase G0, G1, hingga G2. Namun, pada kelapa, teknologi kultur jaringan belum dapat diterapkan sehingga pengadaan benih masih dilakukan secara manual.
Selain itu, dilakukan relaksasi regulasi umur benih kopi dan kakao siap salur dari maksimal 12 bulan menjadi 18 bulan. Kebun produksi yang dijadikan sumber benih harus memenuhi kriteria tertentu, seperti asal usul jelas, varietas teridentifikasi, bebas OPT, dan memiliki produktivitas tinggi.
Dengan kebutuhan benih yang sangat besar, misalnya tambahan 26.000 Pohon Induk Terpilih (PIT) untuk memenuhi kebutuhan 135 juta batang per tahun. Ebi menegaskan keterlibatan semua penangkar yang memenuhi kualifikasi. “Penangkar-penangkar yang selama ini belum banyak terlibat dengan proyek pemerintah harus dilibatkan juga,” ujarnya.

