Jakarta, mediaperkebunan.id – Program hilirisasi perkebunan termasuk kelapa fondasi utamanya adalah peningkatan produktivitas. Tahun 2026 untuk kelapa ditargetkan seluas 154.000 ha. Roni Abdul Angkat, Plt Dirjebun menyatakan hal ini.
“Kami memastikan ketersediaan benih bermutu dan pengembangan kawasan berbasis potensi wilayah. Dengan produktivitas yang meningkat, pasokan bahan baku industri akan terjamin, sehingga hilirisasi berjalan berkelanjutan,” ujar Roni.
“Seluruh proses penetapan penerima bantuan dilakukan melalui mekanisme Calon Penerima dan Calon Lokasi (CPCL) yang diverifikasi secara berjenjang, baik administrasi maupun lapangan, guna memastikan ketepatan sasaran dan akuntabilitas program,” kata Roni.
Secara terpisah Director General International Coconut Communit, Jelfina C Alouw menyatakanp pemerintah Indonesia saat ini sudah memperhatikan kelapa. Program hilirisasi kelapa harus disambut semua pemangku kepentingan dengan baik. Permasalahan kekurangan benih unggul jangan jadi fokus dan membuat pesimis. Masih ada banyak cara untuk meningkatkan produktiviras.
Peningkatan produksi bisa dilakukan dengan intensifikasi (pemupukan). Ada beberapa varietas yang responsive terhadap pemupukan sehingga kalau dipupuk produksi bisa naik. Dengan melibatkan ahli agronomi kelapa cara ini bisa dtempuh.
Sedang untuk menambah ketersedian benih unggul harus diidentifikasi lagi sumber benih, Pohon Induk Terpilih harus diperbanyak. Impor benih kelapa dimungkinkan tetapi dengan biosekuriti yang sangat ketat supaya tidak terjadi seperti pada kasus PB121 yang tidak tahan terhadap busuk pucuk.
Kultur jaringan bisa jadi alternatif. Saat ini teknologi ini sudah berkembang. Kelapa hasil kultur jaringan srilanka sudah sampai di lapangan. Belgia membeli embrio dari Filipina dan 5 tahun meperbanyak melalui kultur jaringan dan memperbaikinya. ICC mendukung ahli Indonesia untuk belajar kultur jaringan.
“Dalam 2-3 tahun lagi saya yakin kultur jaringan kelapa sudah berkembang sehingga lebih mudah memperbanyak kelapa dengan cepat. Kultur jaringan di Thailand sudah mampu menghasilkan kelapa kopyor sekaligus aromatic,” katanya. Kalau sudah berhasil maka diyakini banyak perusahaan swasta juga yang masuk ke benih kelapa.

