Jakarta, mediaperkebunan.id – Sebuah helikopter dengan kode registrasi PK-CFX dilaporkan hilang kontak saat melakukan penerbangan dari Menukung, Kabupaten Melawi menuju Pontianak, Kalimantan Barat, pada Kamis (16/4/2026) pagi. Insiden ini diduga melibatkan sejumlah penumpang, termasuk petinggi perusahaan perkebunan.
Mengutip dari berbagai sumber, helikopter tersebut disebut membawa Chief Operating Officer (COO) KPN Plantation bersama beberapa penumpang lainnya. Total penumpang yang berada di dalam helikopter dilaporkan mencapai delapan orang, termasuk pilot dan kopilot.
Berdasarkan data manifes, helikopter tersebut mengangkut 8 orang, terdiri atas dua kru, yakni Capt Marindra W (pilot) dan Harun Arasyid (EOB); serta enam penumpang: Patrick K, Victor T, Charles L, Joko C, Fauzie O, dan Sugito. Hingga saat ini, proses SAR masih berlangsung.
Informasi awal mengenai kejadian ini belum sepenuhnya terkonfirmasi oleh otoritas resmi. Pelaksana tugas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sanggau, Sigit Purnomo, menyampaikan bahwa pihaknya baru mengetahui kabar tersebut dari komunikasi internal.
Ia mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi yang diterima dari instansi berwenang terkait insiden tersebut. Oleh karena itu, BPBD Sanggau belum dapat mengambil langkah operasional lebih lanjut, termasuk mengerahkan tim pencarian.
Sigit menegaskan bahwa proses pencarian tidak dapat dilakukan tanpa data yang valid, khususnya terkait titik koordinat terakhir helikopter. Tanpa informasi tersebut, upaya pencarian akan menghadapi tantangan besar mengingat luas wilayah Kalimantan Barat yang didominasi hutan dan sungai.
Sementara itu, informasi mengenai dugaan lokasi hilangnya kontak mulai bermunculan dari koordinasi awal di lapangan. Kepala Desa Inggis, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau, Sunardi, mengaku telah dihubungi oleh BPBD untuk membantu memantau wilayah.
Ia menyebutkan bahwa berdasarkan informasi awal, helikopter diduga hilang kontak di sekitar perbatasan wilayah Nanga Taman, Meliau, dan Kapuas. Kawasan tersebut dikenal memiliki medan yang cukup sulit dijangkau dengan akses terbatas serta jaringan komunikasi yang tidak merata.
Jika dugaan lokasi tersebut benar, proses pencarian diperkirakan akan menghadapi berbagai kendala. Selain kondisi geografis berupa hutan lebat, faktor cuaca dan keterbatasan akses darat juga berpotensi memperlambat mobilisasi tim pencari.
Mengutip dari berbagai sumber, Komandan Kodim 1204/Sanggau Letkol Nurrachman Gindha Dradhizya menyebutkan, sebagian korban telah berhasil dievakuasi dari lokasi kejadian.
“Empat jenazah sudah dievakuasi, sementara tiga lainnya masih berada di dalam badan helikopter,” ujarnya.

