Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga Referensi biji kakao periode Juni 2026 ditetapkan sebesar USD 3.832,17 per MT, naik USD 563,48 atau 17,24 persen dari periode sebelumnya. Dampaknya, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao periode Juni 2026 menjadi USD 3.511 per MT, naik USD 549 atau 18,53 persen dari periode sebelumnya.
“Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar. Selain itu, penurunan suplai dari Nigeria ikut mendorong kenaikan HR dan HPE biji kakao,” ungkap Tommy Andana, Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan.
Penetapan BK biji kakao periode Juni 2026 merujuk pada “Kolom Angka 4 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025”, yakni sebesar 7,5 persen. Sementara itu, PE biji kakao pada periode tersebut merujuk pada “Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo. PMK Nomor 9 Tahun 2026”, yakni sebesar 7,5 persen.
Siaran pers Koltiva menyatakan harga kakao sempat mencapai level tertinggi dalam sejarah, namun fondasi pasokan kakao global justru semakin melemah. Dengan harga yang sempat mendekati US$12.000 per ton pada 2024 dan sekitar 70% produksi global terkonsentrasi di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim , sektor ini memasuki periode risiko yang meningkat, bukan penguatan. Lonjakan harga yang terlihat semakin mencerminkan sistem yang berada di bawah tekanan.
Di balik kenaikan harga tersebut, terdapat tekanan dari berbagai faktor seperti volatilitas iklim, sistem produksi kebun yang menua, wabah penyakit, pola curah hujan yang tidak menentu, hingga kurangnya investasi selama beberapa dekade yang terus menekan produktivitas di wilayah produsen utama, khususnya Afrika Barat. Lonjakan harga tajam pada 2024, dari sekitar US$3.500–4.000 menjadi hampir US$12.000 per ton, bukan didorong oleh peningkatan produktivitas atau ketahanan sektor, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan struktural dan tekanan pasokan dalam rantai nilai kakao.
Tekanan dari ketidakstabilan iklim, konsentrasi pasokan, dan kerentanan pendapatan kini bertemu dengan lanskap regulasi yang berkembang pesat. Kebijakan seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR), bersama dengan kerangka keberlanjutan dan uji tuntas perusahaan, mengubah definisi akses ke pasar global. Ketertelusuran, verifikasi bebas deforestasi, dan transparansi data menjadi prasyarat utama perdagangan. Dalam konteks ini, sektor kakao memasuki fase transformasi struktural.
Perubahan mulai terlihat di sektor kakao global, sebagaimana tercermin dalam berbagai forum industri tingkat tinggi dan diskusi multilateral seperti CHOCOA 2026 dan World Cocoa Foundation Partnership Meeting di Amsterdam (02/26). Industri kini bergerak melampaui pendekatan terfragmentasi—seperti sertifikasi terpisah atau proyek percontohan—menuju solusi terintegrasi berbasis sistem yang menghubungkan ketahanan lingkungan, perlindungan sosial, infrastruktur digital, dan inklusi keuangan dalam satu rantai nilai yang terpadu.

