Jakarta, mediaperkebunan.id – Harga referensi biji kakao untuk periode September ini mengalami penurunan sebanyak 0,73 persen bila dibandingkan dengan periode Agustus lalu yang tercatat sebesar sebesar USD 8.234,70 per metrik ton (MT).
Harga referensi biji kakao periode Agustus itu pun, berdasarkan data yang dimiliki Mediaperkebunan.id, Senin (1/9/2025), juga telah mengalami penurunan sebesar USD 1.203,90 atau 12,76 persen dari harga referensi periode bulan Juli 2025.
“Harga referensi biji kakao periode September 2025 ditetapkan sebesar USD 8.174,73/MT, turun USD 59,97 atau 0,73 persen dari bulan sebelumnya,” kata Tommy Andana di Jakarta.
Pria ini adalah Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Kementerian Perdagangan (Kemendag), sebuah posisi yang sebelumnya dipegang oleh Isy Karim.
Kata Tommy Andana, penurunan tersebut berdampak pada penurunan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao pada periode September 2025 menjadi USD 7.743 per MT, turun USD 61 atau 0,78 persen dari periode sebelumnya.
Meskipun begitu, sambung Tommy Andana, penurunan harga referensi ini tidak berdampak pada besaran bea keluar (BK) biji kakao yang tetap 15 persen sesuai dengan kolom 4 lampiran huruf B pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 38 Tahun 2024.
“Secara umum, penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan pasokan dari negara-negara produsen utama seperti Ghana dan Pantai Gading atau dikenal dengan nama Ivory Coast,” ucap Tommy Andana.
“Namun di saat yang sama, limpahan produksi tersebut justru tidak diimbangi dengan peningkatan permintaan di pasar biji kakao global,” tegas Tommy Andana.
Sekadar mengingatkan Kawan MedBun, situasi yang terjadi saat ini pada pasar biji kakao skala global juga sudah terjadi pada periode bulan Juli dan Agustus 2025.
Panen kakao yang melimpah di dua negara di benua Afrika tidak memunculkan banyak permintaan, khususnya dari Amerika Serikat dan negara-negara di benua Eropa yang dikenal sebagai pbeli atau buyer tradisional dan terbesar.
Situasi ini akhirnya berimbas terhadap Indonesia yang diketahui juga merupakan produsen kakao skala global atau tercacat masuk dalam sepuluh besar negara produsen kakao skala global.

