Jakarta, mediaperkebunan.id– Harga Referansi biji kakao periode Januari 2026 ditetapkan sebesar USD 5.662,38/MT, turun sebesar USD 315,08 atau 5,27 persen dari bulan sebelumnya. Hal ini berdampak pada penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Januari 2026 yang menjadi USD 5.296/MT, turun USD 308 atau 5,49 persen dari periode sebelumnya.
“Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan suplai biji kakao seiring dengan peningkatan produksi di negara produsen utama di wilayah Afrika Barat. Hal itu disebabkan membaiknya cuaca yang tidak diikuti oleh peningkatan permintaan),” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana.
BK biji kakao untuk periode 1—31 Januari 2026 merujuk pada Kolom Angka 4 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025, yaitu 7,5 persen. Sementara itu, PE biji kakao periode ini merujuk pada Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025, yaitu 7,5 persen.
Secara terpisah Dyani Faila , Peneliti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menyatakan tahun 2026 produksi kakao dunia diperkirakan meningkat 0,07% jadi 5.216 ribu ton karena Pantai Gading dan Ghana produksinya naik. Analisis statistika menunjukan grinding tahun 2026 meningkat 1,07% jadi 5.219 ribu ton. Produksi kakao Indonesia diprediksi turun 1,28% dibanding tahun sebelumnya.
Harga kakao Desember 2026-Desember 2026 diperkirakan USD5-6/kg.Tahun 2008 produksi kakao dunia 3.592 ribu ton, grinding 3.537 ribu ton, sedang stock 1.557 ribu ton. Tahun 2024 produksi 4.840 ribu ton, grinding 4.640 ribu ton, stock 1.720,35 ribu ton

